
Persoalan sampah organik masih menjadi tantangan besar di lingkungan masyarakat. Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) Kementerian Pertanian hadir memberikan solusi, salah satunya dengan menggelar kegiatan Workshop Smoothies dan Pembuatan Eco Enzyme pada (15/4/2026) di Gedung Perpustakaan dan Pengetahuan Pertanian Digital (P3D).
Sejalan dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menegaskan bahwa praktik pertanian dengan biaya efisien sekaligus ramah lingkungan menjadi salah satu pondasi penting dalam mewujudkan keberlanjutan sektor pertanian nasional.
Ia menyampaikan bahwa tujuan pembangunan pertanian tidak hanya berfokus pada peningkatan kesejahteraan petani, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi, inovasi, serta kearifan lokal perlu berjalan selaras agar kualitas tanah, air, dan udara tetap terjaga, sekaligus mampu meningkatkan pendapatan petani.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa penggunaan pupuk organik memiliki peran penting dalam meningkatkan hasil produksi tanaman, menjaga kesuburan tanah, serta mendukung praktik pertanian yang berkelanjutan.
Ia juga menyoroti pentingnya keberadaan sumber daya manusia pertanian yang kompeten dalam mengadopsi dan menerapkan teknologi tepat guna.
Kepala Pustaka yang di wakili oleh Ketua Tim Kerja Layanan Perpustakaan, Sutarsyah mengungkap bahwa BB Pustaka tidak hanya berperan sebagai pusat informasi, tetapi juga sebagai agen literasi yang mendorong perubahan perilaku masyarakat
“Kegiatan ini mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan serta membawa mereka melakukan perubahan ke arah yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Pentingnya membaca menjadi kunci utama dalam membuka wawasan dan menghadirkan solusi nyata bagi kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Praktisi perpustakaan dan lingkungan hidup Ummi Maryam menegaskan bahwa limbah rumah tangga merupakan penyumbang sampah terbesar, khususnya sampah organik. “Kita bisa memanfaatkan hasil tanaman menjadi konsumsi, lalu sisa sampahnya diolah menjadi eco enzyme,” ujarnya.
Ummi Maryam juga menambahkan bahwa keterampilan menanam, mengolah smoothies, hingga membuat eco enzyme tidak datang begitu saja, melainkan berawal dari kebiasaan membaca.
“Semua ilmu ini berawal dari membaca. Dari buku kita bisa belajar menanam, mengolah hasil panen menjadi konsumsi sehat, hingga mengelola sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tambahnya.
Menurutnya, pemanfaatan hasil tanaman sendiri seperti buah dan sayur tidak hanya mendukung pola hidup sehat melalui konsumsi smoothies, tetapi juga mengurangi limbah.
Sisa kulit buah dan sayuran yang biasanya dibuang dapat diolah menjadi eco enzyme berupa cairan hasil fermentasi yang bermanfaat, salah satunya adalah pupuk organik.
Kegiatan workshop ini diikuti oleh peserta yang berasal dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Tanah Sareal dan Kebon Pedes Bogor, perwakilan Kelurahan Tanah Sareal, serta mahasiswa IPB.
Peserta terlihat antusias, terutama saat sesi praktik mengolah kulit buah dan bonggol sayuran menjadi eco enzyme (Rep TR/Edit SO)
