
Percepatan swasembada beras kian dipacu melalui penguatan Brigade Pangan (BP) sebagai ujung tombak modernisasi pertanian, Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian menggelar Temu Teknologi Pertanian (Tektokan) bertajuk “Akses Modal Antigagal Untuk Brigade Pangan” di Kabupaten Lebak pada 14 April 2026
Kegiatan ini di gelar oleh Pertanian Press sebagai salah satu unit kerja di BB Pustaka. Upaya percepatan swasembada beras terus diperkuat melalui kolaborasi terpadu antara pemerintah pusat dan daerah, dengan menempatkan Brigade Pangan (BP) sebagai motor penggerak modernisasi pertanian.
“Brigade Pangan menjadi penggerak utama dalam pelaksanaan program strategis pemerintah sekaligus berperan sebagai penghubung antara kebijakan dan kebutuhan petani,” ujar Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.
Sejalan dengan itu, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa Brigade Pangan merupakan sebuah sistem kolaboratif yang berlandaskan pada pemberdayaan.
“Peran mereka tidak hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan nasional,” jelasnya.
Analis Prasarana dan Sarana Pertanian Ahli Muda Direktorat Pembiayaan Pertanian, Dewi Maryusari, menegaskan pentingnya peran tim ahli (expert), liaison officer (LO), hingga penyuluh pertanian lapangan (PPL) dalam memastikan Brigade Pangan (BP) berjalan optimal di lapangan.
Dewi menyampaikan bahwa dukungan Kementerian Pertanian, pemerintah daerah, hingga kontribusi PPL dalam meningkatkan luas tambah tanam (LTT) sangat penting. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah daerah juga menjadi kunci, keberhasilan Brigade Pangan.
“Di tingkat operasional, LO UPT berperan memastikan BP benar-benar berjalan, mulai dari pembentukan kelembagaan, konsolidasi lahan minimal 150 hektare, hingga pengelolaan usaha tani secara menyeluruh.” Ungkap Dewi
“BP juga didorong untuk mampu mengakses pembiayaan, melakukan hilirisasi, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, termasuk dalam pengelolaan keuangan dan analisis usaha tani.” Tambahnya
Kemudian Ia menambakan Peran PPL pun menjadi ujung tombak di lapangan. Mereka tidak hanya mendampingi petani dalam budidaya hingga panen, tetapi juga memastikan keberlanjutan usaha melalui pencatatan keuangan, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), hingga fasilitasi akses permodalan.
Literasi keuangan juga terus diperkuat agar BP mampu mandiri, termasuk dalam menyisihkan pendapatan untuk penyusutan alat dan mesin pertanian (alsintan).
“Penguatan peran tim ahli, dukungan anggaran daerah, pendampingan intensif oleh penyuluh, hingga kemudahan akses pembiayaan menjadi kunci untuk meningkatkan luas tanam, indeks pertanaman, dan produktivitas, sekaligus mendorong kemandirian petani dalam mengelola usaha tani secara berkelanjutan.”Ujar Dewi
Dalam aspek pembiayaan, Direktur Pembiayaan Pertanian, Purwanta, menjelaskan bahwa program Kredit Usaha Alsintan hadir untuk mendorong modernisasi pertanian.
Skema ini menawarkan bunga ringan sebesar 3 persen efektif per tahun dengan berbagai kemudahan bagi petani dan pelaku usaha. Kredit ini difokuskan untuk investasi alsintan yang dapat dimanfaatkan secara produktif, termasuk melalui skema jasa sewa.
“Kredit Alsintan tidak hanya meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga membuka peluang usaha baru di pedesaan serta meningkatkan pendapatan petani,” jelasnya.
Senada dengan itu, Rizky Permana, penulis buku Akses Modal Antigagal Untuk Brigade Pangan, menekankan pentingnya literasi keuangan bagi pelaku usaha pertanian. Ia berharap bukunya dapat menjadi panduan praktis agar petani lebih memahami pengelolaan modal, omzet, hingga arus kas secara berkelanjutan.
Dukungan pembiayaan juga terlihat dari sektor perbankan. Kepala Unit BRI Malingping, Alfajri Tasriningtyas, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp6,4 miliar kepada 145 debitur anggota Brigade Pangan. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa akses modal bagi petani semakin terbuka.
Dengan penguatan kelembagaan, pendampingan intensif, serta dukungan pembiayaan yang inklusif, Brigade Pangan diharapkan mampu menjadi motor penggerak modernisasi pertanian sekaligus pilar utama dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.(Kontributor DM/Edit SO)
