
Percepatan swasembada beras kian dipacu melalui penguatan Brigade Pangan (BP) sebagai ujung tombak modernisasi pertanian, Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian menggelar Temu Teknologi Pertanian (Tektokan) bertajuk “Akses Modal Antigagal Untuk Brigade Pangan” di Kabupaten Lebak pada 14 April 2026.
Kegiatan ini di gelar oleh Pertanian Press, BB Pustaka untuk mendukung literasi pertanian. Upaya percepatan swasembada beras terus diperkuat melalui kolaborasi terpadu antara pemerintah pusat dan daerah, dengan menempatkan Brigade Pangan (BP) sebagai motor penggerak modernisasi pertanian.
“Brigade Pangan menjadi penggerak utama dalam pelaksanaan program strategis pemerintah sekaligus berperan sebagai penghubung antara kebijakan dan kebutuhan petani,” ujar Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.
Sejalan dengan itu, Kepala BPPSDMP Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa Brigade Pangan merupakan sebuah sistem kolaboratif yang berlandaskan pada pemberdayaan.
“Peran mereka tidak hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam upaya mewujudkan kedaulatan pangan nasional,” jelasnya.
Analis Prasarana dan Sarana Pertanian Ahli Muda Direktorat Pembiayaan Pertanian, Dewi Maryusari menyampaikan dukungan Kementerian Pertanian terhadap Brigade Pangan yaitu dengan memberikan subsidi untuk kredit program yaitu KUR dengan bunga 6 % dan kredit alsintan dengan bunga 3 %.
Dalam aspek pembiayaan, Direktur Pembiayaan Pertanian, Purwanta, menjelaskan bahwa program Kredit Usaha Alsintan hadir untuk mendorong modernisasi pertanian.
Skema ini menawarkan bunga ringan sebesar 3 persen efektif per tahun dengan berbagai kemudahan bagi petani dan pelaku usaha. Kredit ini difokuskan untuk investasi alsintan yang dapat dimanfaatkan secara produktif, termasuk melalui skema jasa sewa.
“Kredit Alsintan tidak hanya meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi juga membuka peluang usaha baru di pedesaan serta meningkatkan pendapatan petani,” jelasnya.
Dukungan pembiayaan juga terlihat dari sektor perbankan. Kepala Unit BRI Malingping, Kabupaten Lebak, Alfajri Tasriningtyas, mengungkapkan bahwa pihak BRI siap mendukung. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa akses modal bagi petani semakin terbuka. Tim BRI siap membantu Brigade Panen membuka rekening usaha dan rekening penyusutan alsintan secara bersamaan. Tentunya Tim BRI juga akan berkomunikasi secara aktif untuk meminimalkan kendala di lapangan dalam memperoleh KUR untuk usaha tani.
Senada dengan itu, Rizky Permana, penulis buku Akses Modal Antigagal Untuk Brigade Pangan, menekankan pentingnya literasi keuangan bagi pelaku usaha pertanian. Ia berharap bukunya dapat menjadi panduan praktis agar petani lebih memahami pengelolaan modal, omzet, hingga arus kas secara berkelanjutan.
“BP juga didorong untuk mampu mengakses pembiayaan, melakukan hilirisasi, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, termasuk dalam pengelolaan keuangan dan analisis usaha tani.” tambahnya
Kemudian Ia menambakan peran penyuluh pendamping BP pun menjadi ujung tombak di lapangan. Mereka tidak hanya mendampingi petani dalam budi daya hingga panen, tetapi juga memastikan keberlanjutan usaha melalui pencatatan keuangan, hingga fasilitasi akses permodalan.
Literasi keuangan juga terus diperkuat agar BP mampu mandiri, termasuk dalam menyisihkan pendapatan untuk penyusutan alat dan mesin pertanian (alsintan).
Dengan penguatan kelembagaan, pendampingan intensif, serta dukungan pembiayaan yang inklusif, Brigade Pangan diharapkan mampu menjadi motor penggerak modernisasi pertanian sekaligus pilar utama dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.(Kontributor DM/Edit SO)
