
Judul : Secangkir Kopi Meracik Tradisi
Penyusun : Galih Permadi, Agus Supriono, Arie Liliyah Rahman
Penerbit : Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia
Tahun terbit : 2011
Jumlah halaman : 131 hlm
Akses baca : Ruang Baca Umum, Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, Jl. Ir. H. Juanda No. 20, Bogor
Perjalanan kopi di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pertanian atau perdagangan semata, tetapi juga memiliki keterkaitan erat dengan sejarah, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat. Kopi telah menjadi bagian dari keseharian banyak orang, baik sebagai minuman yang dinikmati saat bersantai maupun sebagai sarana berkumpul dan berdiskusi. Di balik secangkir kopi yang disajikan, terdapat perjalanan panjang yang melibatkan berbagai peristiwa sejarah, interaksi budaya, serta peran banyak pihak, terutama para petani yang mengusahakan tanaman kopi di berbagai daerah di Indonesia.
Buku Secangkir Kopi Meracik Tradisi yang disusun oleh Galih Permadi, Agus Supriono, dan Arie Liliyah Rahman serta diterbitkan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia pada tahun 2011 mencoba mengulas perjalanan kopi dari berbagai sudut pandang. Buku ini tidak hanya membahas kopi sebagai komoditas perkebunan, tetapi juga menempatkannya sebagai bagian penting dari sejarah dan budaya masyarakat. Melalui penjelasan yang runtut, pembaca diajak menelusuri sejarah awal kopi, mulai dari asal-usul istilah kopi yang berasal dari dunia Arab hingga masuknya tanaman kopi ke Nusantara pada abad ke-17 melalui peran kolonial Belanda.
Dalam buku ini dijelaskan pula bagaimana kopi kemudian berkembang menjadi salah satu komoditas global yang memiliki pengaruh besar dalam perdagangan dunia. Penulis juga menyoroti peran penting petani kopi dalam rantai produksi, mulai dari proses budidaya hingga menghasilkan biji kopi yang siap diolah. Kehadiran petani sebagai pelaku utama dalam produksi kopi menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang komoditas kopi di Indonesia.
Pembahasan buku ini juga mengaitkan tradisi minum kopi dengan perkembangan sosial dan budaya masyarakat. Kopi digambarkan bukan hanya sebagai minuman penghilang rasa kantuk, tetapi juga sebagai simbol pertemuan budaya antara Barat dan Timur. Tradisi minum kopi bahkan memiliki makna filosofis tertentu yang mencerminkan kebersamaan, interaksi sosial, serta perjalanan sejarah masyarakat.
Secara keseluruhan, buku ini mampu menyajikan informasi tentang kopi dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Penyajiannya yang menggabungkan fakta sejarah dengan narasi yang ringan membuat pembaca dapat memahami perjalanan kopi dari berbagai sudut pandang, baik sejarah, budaya, maupun ekonomi. Oleh karena itu, buku Secangkir Kopi Meracik Tradisi layak dijadikan sebagai referensi bagi pecinta kopi, pemerhati budaya, mahasiswa, maupun pembaca umum yang ingin mengetahui lebih jauh tentang sejarah dan makna kopi dalam kehidupan masyarakat Indonesia. (TR’25)
