
Judul : Pengukuran Gas Rumah Kaca (GRK) Pada Lahan Budidaya Cabai
Penulis : M. Agung Sunusi, dkk.
Penerbit : Kementerian Pertanian Republik Indonesia
Tahun : 2022
Jumlah halaman : 52 halaman
Link akses : https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/20704
Kegiatan pertanian memiliki keterkaitan erat dengan isu perubahan iklim, karena sangat bergantung pada kondisi iklim, seperti curah hujan, suhu, dan musim tanam. Di sisi lain aktivitas pertanian juga turut menyumbang emisi gas rumah kaca yang berperan dalam mempercepat terjadinya perubahan iklim. Emisi tersebut antara lain berasal dari pengolahan lahan, penggunaan pupuk kimia, serta pengelolaan sisa tanaman.
Budidaya cabai merupakan salah satu contoh kegiatan pertanian yang cukup sensitif terhadap perubahan iklim, karena fluktuasi iklim dapat berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman cabai, kualitas hasil panen, serta meningkatnya serangan hama dan penyakit. Selain itu, praktik budidaya cabai secara konvensional juga berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂) dan dinitrogen oksida (N₂O).
Buku Pengukuran Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada Lahan Budidaya Cabai membahas secara khusus keterkaitan antara budidaya cabai dan isu perubahan iklim. Buku ini disusun untuk menjelaskan bagaimana lahan pertanian bisa menghasilkan gas rumah kaca seperti CO₂ dan N₂O, serta bagaimana metode pengukurannya dilakukan sebagai langkah awal mitigasi untuk menekan dampak perubahan iklim di subsektor hortikultura.
Pembahasan buku ini diawali dengan uraian konsep gas rumah kaca, pemanasan global, serta dampak perubahan iklim terhadap subsektor hortikultura, termasuk pengaruhnya terhadap perkembangan hama dan penyakit tanaman.
Bab selanjutnya menjelaskan upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dapat diterapkan pada kegiatan hortikultura serta mengidentifikasi sumber-sumber emisi gas rumah kaca yang berasal dari pemupukan dan pengelolaan lahan. Dibahas pula praktik budidaya cabai secara konvensional dan ramah lingkungan serta kaitannya dengan kondisi lahan dan emisi yang dihasilkan dengan memaparkan teknik dan metode pengukuran emisi gas rumah kaca secara teknis dan bertahap.
Pada bab terakhir disajikan hasil pengukuran emisi gas rumah kaca pada lahan cabai di Kabupaten Sleman, lengkap dengan analisis potensi pemanasan global, kesimpulan dan rekomendasi tindak lanjut untuk mendukung pertanian cabai yang lebih berkelanjutan.
Upaya memahami hubungan antara budidaya cabai dan perubahan iklim menjadi sangat penting, agar. Kegiatan pertanian tidak hanya mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, tetapi juga berperan aktif dalam mengurangi emisi gas rumah kaca melalui penerapan praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Kelebihan buku ini terletak pada pembahasannya yang komprehensif dan didukung data lapangan, sehingga pembaca bisa melihat langsung hubungan antara teori, praktik budidaya, dan dampak lingkungan secara nyata. Disisi lain penggunaan istilah teknis yang relatif banyak, sehingga pembaca awam butuh waktu lebih perlu referensi tambahan dalam memahami bacaan.
Buku ini direkomendasikan untuk mahasiswa pertanian dan lingkungan, peneliti, penyuluh pertanian, serta pihak yang tertarik dengan isu pertanian berkelanjutan dan perubahan iklim. Buku ini juga relevan bagi pengambil kebijakan dan praktisi pertanian yang ingin memahami pentingnya penerapan budidaya cabai ramah lingkungan. (Fatimah’2026)
