
Judul : Flora Indica
Penulis : Nicolaas Laurens Burman
Penerbit : Cornelium Haek
Tahun Terbit : 1768
Jumlah Halaman : 241 halaman
Akses Baca : Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, Jl. Ir. H. Juanda No. 20, Kota Bogor
Alam telah menempatkan setiap tumbuhan pada wilayah yang sesuai dengan manfaatnya, bagi masyarakat setempat, terutama sebagai sumber pengobatan. Berangkat dari gagasan tersebut, Nicolaas Laurens Burman menyusun Flora Indica untuk mendokumentasikan kekayaan flora Hindia Timur secara sistematis. Karya botani klasik abad ke-18 ini menjadi tonggak penting dalam pendokumentasian keanekaragaman tumbuhan di kawasan tersebut.
Dalam pengantarnya, Burman menjelaskan bahwa tujuan penyusunan buku ini tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan, tetapi juga mendukung pemanfaatan tumbuhan sebagai sumber pengobatan. Menurutnya, setiap wilayah memiliki flora khas yang berpotensi mengatasi penyakit yang banyak dijumpai di daerah tersebut. Oleh karena itu, pendokumentasian tumbuhan memiliki nilai penting bagi perkembangan botani dan ilmu kesehatan. Ia juga mengkritik karya botani terdahulu yang belum menyajikan deskripsi morfologi secara lengkap, terutama mengenai bunga dan buah, sehingga banyak spesies sulit diidentifikasi. Untuk mengatasi kelemahan tersebut, Burman menerapkan sistem klasifikasi Carolus Linnaeus yang dilengkapi sinonim, deskripsi rinci, dan ilustrasi pada sejumlah spesies baru yang belum pernah digambarkan secara memadai.
Buku ini mendokumentasikan tumbuhan dari India dan Nusantara, terutama Jawa, Malabar, Sri Lanka (Ceylon), serta Maluku (Ambon). Beberapa spesies dari China, Arabia, Afrika, Amerika, Eropa, dan Tanjung Harapan turut dicantumkan sebagai pelengkap dan pembanding. Jawa, Ambon, Batavia, dan Madura menjadi sumber penting koleksi tumbuhan, khususnya tanaman rempah dan obat.
Berbagai tumbuhan Indonesia dibahas secara rinci, antara lain jahe (Amomum Zingiber), lengkuas (Maranta galanga), kunyit (Curcuma rotunda dan Curcuma longa), serta kencur (Kaempferia). Burman menjelaskan bentuk daun, bunga, rimpang, habitat, dan persebarannya, serta mencatat pemanfaatannya sebagai bumbu, obat, dan tanaman budidaya. Kelompok melati (Nyctanthes dan Jasminum) juga dibahas, termasuk penggunaannya sebagai rangkaian bunga dan bahan minyak harum. Tanaman gandarusa (Justicia gendarussa) dideskripsikan berdasarkan persebaran, bentuk liar maupun budidaya, serta perbanyakannya melalui stek.
Sebagai penghasil rempah dunia, Indonesia mendapat perhatian melalui pembahasan lada (Piper nigrum), sirih (Piper betle), dan cabai jawa (Piper longum). Buku ini juga memuat nama spesies yang menunjukkan asal geografis Indonesia, seperti Dialium javanicum, Rumphia amboinensis, dan Justicia madurensis.
Keistimewaan Flora Indica terletak pada kekayaan sumber koleksinya. Burman memanfaatkan herbarium dan koleksi naturalis, antara lain Georg Eberhard Rumphius, Paul Hermann, Hendrik Adriaan van Reede, dan Henrik Bernard Oldenland. Selain itu buku ini menguraikan sekitar 1.300 spesies tumbuhan, membahas Zoophyta, serta menyertakan Prodromus Florae Capensis mengenai flora Tanjung Harapan.
Meskipun ditulis dalam bahasa Latin ilmiah, Flora Indica memiliki nilai historis tinggi karena merekam perkembangan awal taksonomi modern, dokumentasi herbarium, dan jejaring ilmiah dalam eksplorasi flora Hindia Timur. Melalui nama lokal, daerah asal, dan deskripsi morfologi, Burman menjembatani pengetahuan lokal dengan ilmu botani modern. Flora Indica pun menjadi sumber primer penting bagi kajian sejarah botani, keanekaragaman hayati, dan eksplorasi flora Nusantara. (MZ’2026)
