
Budidaya teh rakyat (kampongtheecultuur) kerap diremehkan dan dianggap tidak memiliki arti penting, padahal data menunjukkan bahwa di Keresidenan Priangan Barat pada tahun 1926 produksi teh dari kebun masyarakat menyumbang hampir 45 persen dari total produksi, angka yang hampir setara dengan perkebunan besar. Pandangan yang merendahkan ini terutama lahir dari prasangka dan kurangnya pemahaman atas hubungan dagang yang kompleks antara petani pribumi dan pabrik teh. Dengan pengelolaan yang tepat, budidaya teh rakyat tidak mengganggu produksi pangan, justru memiliki nilai ekonomi besar dan berpotensi mendorong kemajuan pertanian serta kepentingan umum.
Buku De Bevolkingstheecultuur in de residentie West Priangan karya Leonardo José Vroon merupakan sebuah karya ilmiah berbentuk disertasi doktor yang diterbitkan pada tahun 1928 di Wageningen, Belanda. Buku ini membahas perkembangan, permasalahan, serta arti penting budidaya teh rakyat di wilayah Priangan Barat pada masa Hindia Belanda. Dengan pendekatan ekonomi pertanian dan sosial, penulis berupaya meluruskan berbagai pandangan keliru mengenai posisi serta peran petani teh pribumi dalam sistem produksi dan perdagangan teh kolonial.
Pada bagian awal buku, penulis menguraikan latar belakang historis masuknya tanaman teh ke Jawa sejak abad ke-19 serta kebijakan kolonial yang membentuk arah perkembangannya. Budidaya teh digambarkan tidak tumbuh secara spontan, melainkan melalui serangkaian percobaan yang dirintis pemerintah dengan melibatkan tenaga ahli dari Eropa, sebelum kemudian berkembang dalam bentuk perkebunan besar dan kebun rakyat. Di Keresidenan Priangan Barat, yang pada pertengahan dekade 1920-an telah menjadi pusat utama teh rakyat, masyarakat memanfaatkan peluang pasar dengan mengembangkan kebun teh hingga mencapai sekitar 15.656 ha pada akhir tahun 1926. Namun, keberadaannya kerap dipandang kurang penting oleh kalangan perkebunan besar maupun administrasi kolonial.
Penulis selanjutnya menyoroti kondisi budidaya teh rakyat melalui pembahasan mengenai teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, pembagian kerja dalam rumah tangga tani, serta jalur pemasaran daun teh. Penulis menunjukkan peranan teh rakyat sangat besar, dari total produksi teh kering di Priangan Barat pada tahun 1926 yang mencapai sekitar 25.179.510 kg, sebanyak 11.362.729 kg atau hampir 45 persen berasal dari daun teh kampung yang diolah oleh pabrik teh Eropa dan Tionghoa. Namun demikian, hubungan yang tidak seimbang antara petani, pedagang perantara, dan pengusaha pengolahan menyebabkan posisi tawar petani relatif lemah, sehingga manfaat ekonomi yang diterima belum sepenuhnya mencerminkan besarnya kontribusi produksi tersebut.
Pada bagian akhir, penulis mengkaji berbagai upaya perbaikan yang pernah dilakukan, termasuk kebijakan pemerintah, pengawasan teknis, dan gagasan pengorganisasian petani. Disimpulkan bahwa kegagalan berbagai kebijakan bukan disebabkan oleh ketidakmampuan petani, melainkan akibat pendekatan yang kurang memahami realitas sosial dan ekonomi pedesaan. Buku ini menegaskan bahwa budidaya teh rakyat memiliki nilai ekonomi yang besar dan berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila didukung dengan kebijakan yang tepat, pendidikan yang relevan, serta kerja sama yang adil antara petani dan industri.
Buku ini layak dibaca dan dipelajari karena memberikan gambaran komprehensif tentang dinamika pertanian rakyat dalam sistem kolonial, khususnya pada komoditas teh. Selain bernilai historis, karya ini juga relevan bagi kajian pertanian berkelanjutan, ekonomi pedesaan, dan kebijakan agraria hingga masa kini. Analisis yang tajam, dan didukung data empiris, menjadikan buku ini rujukan penting bagi peneliti, maupun pemerhati sejarah pembangunan pertanian di Indonesia. (MZ’2026)
