
Judul : Cocos Nucifera: Handboek voor de kennis van den cocos-palm in Nederlandsch-Indie, zijne geschiedenis, beschrijving, cultuur en producten
Penulis : F.W.T. Hunger
Penerbit : Scheltema & Holkema's Boekhandel
Tahun Terbit : 1916
Jumlah Halaman : 146 halaman
Akses Baca : Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, Jl. Ir. H. Juanda No. 20, Kota Bogor
Bagi masyarakat di wilayah tropis, kelapa bukan sekadar tanaman yang tumbuh di sekitar permukiman, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang menarik untuk ditelusuri. Asal-usul kelapa telah lama menjadi perdebatan para ahli botani, terutama mengenai kemungkinan bahwa tanaman ini berasal dari Amerika atau Asia. Berbagai pendapat ilmiah dan bukti sejarah menunjukkan bahwa kelapa telah dikenal dan tersebar di kedua kawasan tersebut sejak masa lampau. Perdebatan mengenai asal usulnya menjadikan kelapa tidak hanya menarik sebagai tanaman yang bermanfaat, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan sejarah dan penyebaran tumbuhan di dunia.
Buku Cocos nucifera karya Dr. F. W. T. Hunger merupakan karya yang secara khusus membahas kelapa (Cocos nucifera) secara menyeluruh, mulai dari sejarah, karakteristik botani, budidaya, hingga berbagai produk yang dihasilkan. Buku ini disusun untuk memberikan gambaran yang sistematis dan cukup lengkap mengenai kelapa, khususnya keberadaannya dan pengusahaannya di Hindia Belanda. Penulis juga menekankan pentingnya penyajian informasi melalui ilustrasi; buku ini dilengkapi 40 pelat, empat di antaranya berwarna, serta 12 gambar dalam teks.
Pembahasan diawali dengan sejarah dan asal-usul kelapa. Penulis menguraikan perdebatan mengenai daerah asal Cocos nucifera serta penyebarannya hingga kawasan Asia dan Kepulauan Melayu. Selanjutnya, aspek botani dijelaskan secara rinci, meliputi batang, sistem perakaran, daun, bunga, penyerbukan, buah, perkecambahan, serta jenis dan varietas. Kelapa digambarkan sebagai tanaman berumur panjang dengan batang tinggi dan sistem perakaran yang kuat.
Bagian budidaya menjadi salah satu kekuatan buku. Materinya mencakup kondisi tumbuh, persiapan lahan, bahan tanaman, pemilihan benih, persemaian, penanaman, pemeliharaan, tanaman sela, pengolahan tanah dan pemupukan, hingga panen. Buku juga membahas penyakit, gangguan fisiologis, jamur, serangga, serta berbagai hewan yang menjadi musuh tanaman kelapa.
Keunggulan lain terletak pada pembahasan pemanfaatan kelapa. Penulis menunjukkan bahwa hampir seluruh bagian buah memiliki kegunaan. Daging buah dapat dikonsumsi atau diolah menjadi minyak, tempurung digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, sedangkan sabut menghasilkan serat untuk tali, tikar, dan produk lainnya. Kopra juga dibahas sebagai komoditas perdagangan penting.
Sebagai buku yang terbit pada 1916, beberapa istilah, data, dan sudut pandangnya tentu mencerminkan pengetahuan serta kondisi sosial-ekonomi pada zamannya. Namun, dokumentasi mengenai morfologi, budidaya, pemanfaatan, dan sejarah kelapa menjadikan buku ini bernilai sebagai sumber literatur pertanian dan sejarah perkebunan.
Secara keseluruhan, Cocos nucifera merupakan referensi penting untuk memahami kelapa dari perspektif botani, budidaya, pemanfaatan, dan perdagangan pada awal abad ke-20. Buku ini sangat relevan bagi peneliti, pustakawan, mahasiswa pertanian, maupun pemerhati sejarah pertanian dan perkebunan Indonesia, terutama yang ingin memahami perkemabangan pengetahuan tentang kelapa sekaligus melihat kondisi pengusahaan komoditas tersebut pada masa lampau. (MZ’2026)
