Kedelai yang tumbuh subur belum tentu menghasilkan keuntungan optimal jika panen dan pascapanennya tidak ditangani dengan tepat. Waktu panen yang sesuai dan penanganan pascapanen yang tepat menjadi kunci untuk menjaga mutu biji, mengurangi kehilangan hasil, serta meningkatkan nilai jual kedelai.
Keberhasilan budi daya kedelai tidak hanya ditentukan oleh teknik penanaman, tetapi juga oleh ketepatan penanganan panen dan pascapanen. Penanganan panen dan pascapanen menentukan mutu dan nilai jual kedelai. Penanganan yang kurang tepat, mulai dari keterlambatan panen hingga penyimpanan, dapat menyebabkan kehilangan hasil akibat biji rontok, rusak, atau menyusut. Oleh karena itu, penerapan teknik panen dan pascapanen yang tepat diperlukan untuk menekan kehilangan hasil serta menjaga kualitas kedelai.
Panen Kedelai
Panen dilakukan pada saat tanaman sudah masak. Umur panen kedelai ditentukan oleh jenis varietas, musim tanam, kelengasan tanah serta perlakuan agronomis, umumnya 70–90 hari. Kedelai yang telah siap panen ditandai dengan sebagian besar daun (90–95 persen) sudah menguning kecokelatan lalu gugur, batang kering, berwarna kuning agak cokelat dan gundul, buah kuning kecokelatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua.
Panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan hindari saat hujan. Kondisi basah saat panen dapat merusak biji ketika tanaman dikumpulkan dan ditumpuk. Ada dua cara untuk memanen kedelai, yaitu (1) mencabut tanaman beserta akarnya, dengan hati-hati karena kedelai yang sudah tua mudah sekali rontok bila tersentuh tangan atau (2) memotong tanaman menggunakan sabit biasa maupun sabit bergerigi. Tanaman dicabut dengan hati-hati Apabila menggunakan sabit, Sabit harus tajam agar tidak menimbulkan goncangan sehingga panen lebih cepat dan jumlah buah yang rontok akibat goncangan berkurang.
Penanganan Pascapanen
Terdiri atas penjemuran brangkasan, perontokan, pengeringan, pembersihan, dan penyimpanan biji.
Penjemuran Brangkasan
Penjemuran dilakukan dengan bantuan matahari .Brangkasan dijemur dengan ketebalan 25 cm atau diberdirikan dengan diberi alas tikar, terpal plastik, atau anyaman bambu yang berwarna hitam. Brangkasan perlu dibalik setiap 2 jam untuk mempercepat pengeringan. Apabila cuaca baik, diperlukan 1–2 hari (kadang-kadang sampai 7 hari) untuk menurunkan kadar air biji kedelai menjadi kurang lebih 17 persen, yang ditandai polong kedelai mudah pecah ketika ditekan dengan jari.
Pengeringan brangkasan kedelai dapat dilakukan dengan menggunakan bangsal pengering maupun mesin pengering. Pada bangsal pengering, brangkasan kedelai disusun terbalik pada rak bambu.dan dikeringkan dengan aliran udara bersuhu maksimum 60oC. Sementara itu, mesin pengering, seperti alat pengering cepat kedelai brangkasan yang dikembangkan Balitbangtan Kementerian Pertanian, memanfaatkan gabungan sumber energi yang berasal dari kompor minyak tanah sebagai sumber panas untuk mempersepat proses pengeringan brangkasan.
Perontokan dan Pembersihan Biji
Dilakukan dengan cara tradisional atau menggunakan perontok pedal atau mesin perontok. Perontokan secara tradisional dilakukan dengan cara memukul-mukul tumpukan brangkasan (atau dalam karung) dengan gebuk yang terbuat dari kayu atau pelepah kelapa. Perontokan dengan pedal perontok kedelai dapat dilakukan dengan pedal injak atau pedal kontinu. Perontokan dengan pedal memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan secara tradisional, baik ditinjau dari kapasitas kerja maupun mutu fisik biji.
Perontokan dengan mesin perontok mempunyai beberapa keuntungan, yaitu mutu biji kedelai dapat dipertahankan, kehilangan hasil dapat ditekan (biji rusak 2 persen), penghematan biaya, waktu, dan tenaga kerja, serta produktivitas meningkat. Sebelum melakukan perontokan dengan mesin, brangkasan kedelai dengan kadar air biji 14–15 persen disiram air agar biji kedelai tidak pecah saat dirontokkan. Perontokan kemudian dilakukan dan biji yang keluar dari mesin ditampung dalam ember. Biji kedelai yang masih bercampur kotoran dibersihkan. Biji yang terpisah kemudian ditampi agar terpisah dari kotoran kotoran lainnya. Biji yang luka dan keriput dipisahkan.
Pengeringan Biji Kedelai
Pengeringan biji kedelai dapat dilakukan dengan sinar matahari atau mesin pengering. Penjemuran dilakukan di atas tikar atau plastik, disertai pembalikan secara berkala dan pengendalian suhu agar tidak melebihi 40°C untuk mencegah kerusakan biji. Alternatifnya, mesin pengering tipe sirkulasi yang dikembangkan Balitbangtan Kementerian Pertanian mampu mengeringkan 2 ton kedelai per proses selama 10–12 jam menggunakan bahan bakar LPG hingga mencapai kadar air yang diinginkan.
Pengeringan biji dapat dilakukan dengan panas matahari ataupun mesin pengering. Biji kedelai dihamparkan di atas tikar atau plastik, kemudian dijemur , disertai pembalikan secara berkala. Hindarkan suhu lebih dari 40oC untuk mencegah kerusakan biji.
Pengeringan biji juga bisa menggunakan mesin pengering biji tipe sirkulasi yang dikembangkan Balitbangtan Kementerian Pertanian. Mesin ini mengeringkan kedelai dengan cara mengalirkan bahan yang dikeringkan melalui zona pengeringan secara kontinu Mesin ini mampu mengeringkan 2 ton kedelai per proses selama 10–12 jam menggunakan bahan bakar LPG hingga diperoleh kadar air yang diinginkan.
Pengemasan dan Penyimpanan Kedelai
Pengemasan biji kedelai menggunakan karung koni, kantong plastik, kaleng, atau karung plastik. Pengemasan dengan karung goni dapat menekan kerusakan dan mempertahankan kadar air awal selama enam bulan penyimpanan dalam suhu kamar. Untuk pemasaran, Jika kedelai akan segera dijual, biji dikemas dalam kantong sebanyak 20–50 kg, kemudian ditutup dengan sistem rapat udara, lalu dijahit atau diikat kuat.
Penyimpanan biji kedelai dilakukan dalam ruangan yang mempunyai suhu 18–20oC dan kelembapan sekitar 55%. Karung kedelai diletakkan di lantai semen yang diberi alas kayu. Biji kedelai yang disimpan lama perlu dikeringkan lagi setiap 2–3 bulan sekali sampai kadar airnya mencapai 9–11%. Ini dilakukan untuk menjaga agar kedelai tetap kering dan menghindarkan serangan hama bubuk kedelai (Bluchus sp.). Untuk mengendalikannya dapat digunakan fungisida, membersihkan gudang, dan segera mengeluarkan biji yang rusak dari dalam gudang.
Dengan penanganan yang tepat, kedelai dapat memiliki kualitas yang lebih baik, daya simpan lebih lama, serta nilai jual yang lebih tinggi sehingga memberikan keuntungan optimal bagi petani. (WD 2026)
Sumber :
- Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. (2017) Meraih untung dengan kedelai unggul. IAARD Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5923 - Rahmi H., Nurhafsah, Andriani, I. dan Fitriawaty. (2021). Petunjuk teknis budidaya tanaman kedelai. BPTP Sulawesi Barat.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15323





