Dengan paduan cita rasa buah asam-manis, markisa memiliki peluang bisnis yang menyegarkan. Markisa dapat dikonsumsi secara segar maupun dalam bentuk olahan. Melalui teknik budi daya dan pengolahan yang tepat, markisa berpeluang menjadi komoditas hortikultura unggulan bernilai tambah.
Markisa (Passiflora sp.) merupakan tanaman rambat yang berasal dari Amerika Selatan. Tanaman ini memiliki nilai ekonomi karena buahnya dapat dikonsumsi segar maupun diolah menjadi beragam produk pangan, seperti sirup, jus, dan selai. Di Indonesia, markisa berkembang karena adanya dataran dan iklim yang sesuai. Potensi ini menjadikan budi daya markisa menarik untuk dikembangkan sebagai usaha hortikultura yang bernilai ekonomi.
Namun, keberhasilan usaha markisa tidak hanya ditentukan oleh permintaan pasar, tetapi juga oleh pemilihan varietas, kesesuaian lahan dan iklim, teknik budi daya, serta penanganan hasil panen. Penerapan teknik budi daya markisa yang tepat, berpeluang memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus memenuhi kebutuhan pasar akan buah segar dan produk olahannya.
Mengenal Jenis Markisa
Di Indonesia, terdapat tiga jenis markisa yang banyak dibudidayakan, yaitu markisa ungu, markisa kuning, dan markisa konyal. Ketiganya memiliki karakteristik serta pemanfaatan yang berbeda.
- Markisa ungu (Passiflora edulis var. edulis)
Terkenal sebagai markisa asam/siuh. Buah markisa ini berbentuk bulat hingga lonjong dengan kulit ungu ketika matang, memiliki aroma khas dan rasa asam yang kuat. Jenis ini banyak dibudidayakan di Kabupaten Karo, Dairi, dan Simalungun di Sumatra Utara dan Kabupaten Gowa, Sinjai, Tana Toraja, Enrekang, dan Polewali Mandar di Sulawesi Selatan.
- Markisa kuning (Passiflora edulis var. flavicarpa)
Dikenal juga sebagai markisa rola. Markisa ini tumbuh baik pada dataran rendah, buah berbentuk lonjong dengan diameter 5–6 cm dan berwarna kuning cerah berbintik putih ketika matang. Rasa buahnya asam dengan harum yang tidak begitu kuat. Jenis ini banyak diolah menjadi sirup dan jus markisa. Markisa kuning berkembang di Jawa Barat, tepatnya di Sukabumi dan Cianjur.
- Markisa erbis (Passiflora quadrangularis L.)
Disebut juga dengan giant grandala. Buahnya berbentuk oblong, berwarna hijau, dengan panjang 20–25 cm dan berat mencapai 2,5 kg/buah. Kulit buah tipis dan daging buah tebal, rasanya segar dan cocok untuk campuran minuman. Markisa ini berkembang di Cianjur, Jawa Barat dan Karo, Sumatra Utara.
- Markisa konyal (Passiflora lingularis) atau markisa manis
Ketika muda buahnya berwarna hijau keunguan, adapun ketika masak berwarna kecokelatan dan berbintik putih. Buah berbentuk lonjong, rasanya manis dan memiliki harum markisa yang khas. Umumnya buah ini dikonsumsi langsung secara segar atau diolah menjadi sirup markisa. Markisa ini dikembangkan di Kabupaten Solok, Sumatra Barat.
Budi Daya Markisa
Keberhasilan budi daya markisa dimulai dari pemilihan bibit dan persiapan lahan. Tanaman ini memerlukan penyangga karena batangnya merambat dan dapat tumbuh panjang.
- Memilih dan menyiapkan bibit
Pembibitan markisa dapat dilakukan melalui biji, setek cabang, dan sambung pucuk. Bibit markisa dapat dipindahkan ke kebun apabila telah berumur 2–3 bulan.
- Menyiapkan lahan dan menanam
Dilakukan dengan penggemburan dan pengecekan kemasaman, tanah yang masam dapat ditaburi dolomit. Lubang disiapkan 2–4 minggu sebelum penanaman, kemudian diberi 2–3 kg pupuk kandang atau kompos matang. Ukuran lubang tanam 30 cm × 30 cm × 30 cm atau 40 cm × 40 cm × 40 cm dengan jarak tanam 4 m × 4 m, 4 m × 5 m, atau 5 m × 5 m sesuai kemiringan lahan. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan agar tanaman memperoleh pasokan air yang cukup selama masa adaptasi.
- Perawatan tanaman
Mencakup penyiraman, penyulaman, pemupukan, pemangkasan, serta pengendalian hama dan penyakit. Penyiraman perlu dilakukan ketika tanah mulai mengering, terutama pada periode tanpa hujan. Rambatan menjadi komponen penting dalam budi daya markisa. Petani dapat menggunakan model T, para-para, pagar, atau rambatan vertikal. Sistem T yang dipadukan dengan pemangkasan teratur dinilai mampu mendukung produksi dan kualitas buah yang baik.
- Panen dan Pengolahan
Markisa mulai berbuah sekitar 10–12 bulan setelah ditanam. Buah siap dipanen saat kulit berubah warna sesuai varietas dan mengeluarkan aroma khas. Hindari memanen buah yang masih hijau. Penanganan pascapanen dilakukan secara hati-hati mencakup pengumpulan buah dalam wadah bersih, pencucian, penirisan, dan sortasi untuk memisahkan buah berkualitas baik dari buah yang memar atau busuk.
Peluang Pengembangan
Potensi pengembangan markisa tidak berhenti pada penjualan buah segar. Markisa asam banyak dimanfaatkan sebagai bahan sari buah dan sirup, sedangkan markisa konyal lebih umum dikonsumsi segar. Keduanya berpotensi diolah menjadi jus, selai, dodol, dan produk pangan lainnya. Pengolahan dapat memperpanjang pemanfaatan hasil panen serta membuka peluang usaha bagi kelompok tani dan pelaku usaha mikro. Namun, pengembangannya perlu didukung standar mutu, kebersihan proses produksi, pengemasan, dan kepastian pasar.
Budi daya markisa berpotensi menjadi usaha hortikultura bernilai ekonomi melalui penerapan teknik budi daya yang tepat, penggunaan bibit unggul, dan penanganan pascapanen yang baik. Didukung pengolahan hasil dan kemitraan pemasaran, markisa dapat memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus membuka peluang bisnis yang lebih luas. (AM’2026)
Sumber:
- Sudarsono, D., Budiyanti, T. & Sudjijo. (2013). Petunjuk budi daya markisa. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26164 - Direktorat Tanaman Buah. (2004). Profil sentra produksi markisa. Direktorat Tanaman Buah.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/22902






