Produksi daging sapi nasional menghadapi tantangan besar: permintaan tinggi, produksi rendah. Melalui pendekatan peternakan berbasis inovasi – dari bibit unggul, pakan campuran, hingga manajemen pedet dan kesehatan – para peternak kini mampu meningkatkan efisiensi usaha ternaknya. Inilah saatnya inovasi peternakan mengambil peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan hewani nasional.
Inovasi Perbibitan Sapi Potong
Kriteria pemilihan bibit yang perlu diperhatikan diantaranya adalah: 1) bangsa dan sifat genetik, 2)Kesehatan, 3) seleksi calon bibit berdasarkan penampilan fisik.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesuburan Induk: 1) pemberian pakan yang baik dan benar setelah beranak; apabila induk yang setelah beranak kurang diberikan pakan baik jumlahmaupun mutu maka akan berpengaruh terhadap estrus post partum yang optimal (60-70 hari) dan memperoleh angka konsepsi yang tinggi akibatnya cadangan makanan yang ada dalam tubuh induk akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan susu pedet, 2) pemberian mineral dan vitamin, 3) pengamatan reproduksi yang teratur terhadap deteksi berahi, pencatatan IB atau kawinalam, pengamatan berahi setelah beranak.Teknologi reproduksi yang dibutuhkan dalam beternak sapi harus mudah diterapkan dan bisa membantu ternak beranak setiap tahun. Dengan begitu, pendapatan petani bisa meningkat. Beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain: 1) pengaturan perkawinan dengan kawin suntik atau kawin alam, 2) pengamatan berahi setelah beranak, 3) pemberian pakan yang tepat, 4) manajemen penyapihan pedet untuk mempercepat bunting kembali, 5) pemanfaatan hormon reproduksi.
Agar sapi cepat bunting, perlu diperhatikan teknik kawin yang sesuai dengan jenis kandangnya (apakah kelompok atau individu). Selain itu, perlu juga diberi pakan tambahan (flushing) yang mengandung 12% protein dan energi tinggi (65%). Pakan tambahan ini bisa membantu mempercepat munculnya birahi.
Inovasi Pakan
Salah satu cara mempercepat peningkatan bobot badan dalam program penggemukan adalah pemberian pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat (ampas bir, ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan). Konsentrat diberikan lebih dahulu bertujuan untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan.
Kebutuhan pakan (dalam berat segar) tiap ekor adalah 10% dari berat badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria 11 kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi. Disamping hijauan ternak sapi juga perlu diberi pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.
Strategi Pemberian Pakan Sapi Bunting yaitu 1) teknologi steaming up, challenge, dan flushing dilakukan secara berkesinambungan sejak sapi induk bunting 9 bulan hingga menyusui anak umur 2 bulan; 2) pakan konsentrat murah sebanyak 1-3% dari bobot badan dengan kandungan PK minimal 10%, TDN minimal 60%, SK maksimal 17% dan abu maksimal 10%.
Pemeliharaan Pedet: 1) pedet yang baru dilahirkan harus segera disusukan pada induknya sebelum 6 jam setelah dilahirkan, 2) pedet dapat terus meneruskan dikumpulkan dengan induknya agar dapat menyusui setiap saat, 3) target kinerja dari pemeliharaan pedet pada umur 4-5 bulan,minimal 95 kg untuk sapi jantan sedang yang betina 80 kg, 4)ukuran luas untuk kandang pedet pra sapih 90 x 150 cm, 5) pedet pra sapih jangan diberikan jerami padi fermentasi tapi rumput muda baik rumput lapang atau rumput unggul
Kesehatan Hewan
Situasi Penyakit Hewan: 1) pembibitan sapi potong dilakukan di daerah yang tidak terdapat gejala klinis atau bukti lain tentang penyakit radang limpa (antraks) dan keluron menular (brucellosis), 2) jika pembibitan dilakukan di daerah endemis antraks, brucellosis, dan SE, kegiatan vaksinasi dilakukan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Pencegahan Penyakit Hewan: 1) melakukan vaksinasi dan pengujian/tes laboratorium terhadap penyakit hewan menular tertentu yang ditetapkan oleh instansi berwenang, 2) mencatat setiap pelaksanaan vaksinasi dan jenis vaksin yang dipakai dalam kartu kesehatan ternak, 3) melaporkan kepada dinas yang membidangi peternakan dan kesehatan hewan setempat terhadap kemungkinan timbulnya kasus penyakit, terutama yang diduga/dianggap sebagai penyakit hewan menular, 4) melakukan pemotongan kuku apabila diperlukan, 5) memberikan obat cacing secara rutin tiga kali dalam setahun, 6) memberikan pakan yang tidak mengandung bahan pakan yang berupa darah, daging, dan/atau tulang.
Kebutuhan akan daging semakin meningkat dari waktu ke waktu maka usaha ternak sapi potong dapat menjadi bisnis yang menjanjikan selain untuk meningkatkan produksi daging, usaha ini harus menguntungkan yang berdampak pada kesejahteraan peternak sekaligus mencukupi kebutuhan masyarakat akan bahan pangan yang bergizi. (WD 2025)
Sumber :
- Ahmad S., Siti N., Muhammad S.,(2022). Inovasi Teknologi Pengembangan Usaha Ternak Sapi. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Selatan
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/18695
- Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. (2017). Inovasi Terkini Beternak Sapi. IAARD Press
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5363






