Ulat grayak dari genus Spodoptera merupakan salah satu kelompok hama utama tanaman yang tersebar di berbagai belahan dunia. Sifatnya yang polifag—mampu menyerang banyak jenis tanaman—ditambah kemampuan beradaptasi, berpindah, berkembang biak, dan membentuk resistensi terhadap pengendalian membuatnya menjadi hama yang sulit diremehkan. Oleh karenanya, mengenali ulat grayak menjadi langkah penting untuk melindungi tanaman dan hasil pertanian.
Ulat grayak termasuk dalam genus Spodoptera terdapat 31 spesies jenis ulat yang telah diketahui. Ulat ini termasuk dalam hama penting tanaman pangan dan dapat menyerang 40-90 famili tanaman bernilai ekonomi tinggi. Ulat menyerang dengan memakan hampir seluruh bagian tanaman, daya rusaknya sangat tinggi dan serius. Peningkatan jumlah, penambahan generasi dan penyebaran wilayah ulat grayak terus meluas dalam beberapa dekade, hal ini terjadi seiring adanya peningkatan suhu akibat perubahan iklim. Perubahan populasi yang sulit diprediksi ini dapat memengaruhi keseimbangan ekologi.
Dampak kerusakan ulat grayak pada tanaman produksi diantaranya dapat mencapai 20-100% untuk tanaman kedelai, 40-50% pada tanaman cabai, 25-100% pada tanaman kubis, 90% pada tanaman rumput, 30-100% pada tanaman jagung, dan >10-20% pada tanaman padi. Kerusakan dapat lebih berat terlebih jika terjadi ledakan populasi ulat pada wilayah pertanaman.
Jenis Ulat Grayak di Indonesia
Secara umum, siklus ulat grayak dimulai dari ngengat dewasa yang meletakan telur pada tumbuhan inang. Ulat kemudian menetas, larva ulat bertumbuh dengan memakan tanaman, ketika dewasa larva akan membentuk menjadi pupa hingga selanjutnya berubah menjadi ngengat. Keberadaan tumbuhan inang sangat berpengaruh pada persebaran dan kemunculan hama ulat grayak. Salah satu tumbuhan inang yang sering menjadi perantara hama adalah rumput. Ngengat akan meletakan telur pada rumput hingga kemudian menetas dan larva bermigrasi menuju tanaman utama.
Mengenal siklus dan jenis ulat dapat membantu petani dalam deteksi dini dan pengendalian yang tepat. Berikut lima jenis ulat grayak yang sering ditemukan di Indonesia.
- Ulat grayak litura (S. litura)
Dikenal sebagai ulat grayak tembakau atau ulat grayak kapas. Telurnya berbentuk lonjong atau agak pipih, berdiameter sekitar 0,6 mm, diletakkan berkelompok dalam jumlah ratusan dan ditutupi sisik menyerupai rambut berwarna cokelat muda. Larva muda berwarna hijau dengan kepala dan toraks hitam, kemudian berubah menjadi lebih beragam dengan pola merah, kuning, garis hijau, dan spot hitam. Larva tua umumnya berwarna cokelat tua dengan tiga garis tipis kuning atau jingga serta spot hitam berbentuk setengah lingkaran pada ruas abdomen. Pupa berwarna kuning pucat yang kemudian berubah menjadi coklat kemerahan gelap dan berada di dalam tanah pada kedalaman 5–6 cm. Ngengat betina memiliki sayap depan coklat dengan bercak coklat muda dan sayap belakang putih dengan pinggiran coklat, dengan rentang sayap sekitar 35–40 mm. S. litura memiliki tanaman inang yang sangat beragam, antara lain tembakau, kacang tanah, cabai, bawang, jarak, kubis, sayuran, tanaman serat, dan tanaman hias. Persebarannya meliputi Asia, Afrika, Amerika Utara, Eropa, dan Oseania. - Ulat grayak eksigua (S. Exigua)
Dikenal pula sebagai beet armyworm atau ulat bawang. Telurnya berwarna putih, diletakkan dalam kelompok berbentuk oval dan ditutupi selaput. Larva yang baru menetas masuk ke ujung daun bawang dan hidup berkelompok, kemudian menyebar setelah sumber makanan berkurang. Larva muda berwarna hijau pucat atau kuning, sedangkan larva yang lebih tua memiliki warna lebih gelap dengan garis pucat atau putih dan sederet spot hitam pada bagian tubuhnya. Pupanya berwarna cokelat muda dan berada di dalam tanah pada kedalaman sekitar 1,1–2 cm. Ngengatnya memiliki sayap depan berwarna coklat berbintik abu-abu dengan pola tidak beraturan dan noktah kuning emas, sedangkan sayap belakang berwarna abu-abu atau putih dengan garis gelap pada tepinya. Spesies ini memiliki banyak tanaman inang, seperti bawang, terong, cabai, tembakau, kedelai, kubis, tomat, jagung, kapas, selada, kacang-kacangan, tanaman padang rumput, dan tumbuhan liar. S. exigua memiliki persebaran sangat luas di berbagai negara, terutama Afrika dan Asia. - Ulat grayak eksemta (S. Exempta)
Dikenal sebagai African armyworm dan terutama menyerang tanaman dari kelompok rumput-rumputan, seperti padi, jagung, tebu, sorgum, gandum, oat, barley, millet, serta berbagai jenis rumput. Telurnya berwarna kuning pucat dan diletakkan di bagian bawah daun dalam kelompok sekitar 50–100 butir yang diselimuti lapisan kehitaman. Larvanya memiliki dua bentuk: 1) larva gregarius, memiliki permukaan tubuh seperti beludru, garis lateral pucat, dan kepala hitam mengilap; dan 2) larva soliter, berwarna hijau kecoklatan dan lebih gemuk. Setelah fase larva, ulat berpupa di tempat kering di bawah permukaan tanah, terutama di sekitar akar rumput atau gulma, pada kedalaman 2–3 cm. Ngengatnya berukuran sekitar 14–18 mm dengan rentang sayap 29–34 mm dan sayap depan berwarna coklat tua dengan tanda kelabu kehitaman. Spesies ini tersebar di Sub-Sahara Afrika, Asia, Australia, Selandia Baru, dan Hawaii, serta pernah dilaporkan mengalami ledakan populasi di Jawa. - Ulat Grayak Mauritia (S. mauritia)
Menyerang padi, tebu, jagung, dan rumput-rumputan. Telurnya diletakkan terutama pada bagian bawah daun rumput dalam kelompok berbentuk lonjong sebanyak sekitar 50–400 butir dan ditutupi lapisan abu-abu kecoklatan. Menariknya, peletakan telur jarang terjadi pada tanaman padi. Setelah menetas, larva dapat bermigrasi dari rumput menuju tanaman padi. Larva muda berwarna hijau muda dengan garis putih kekuningan, kemudian berubah menjadi coklat keabu-abuan dengan spot hitam pada setiap sisi ruas tubuh. Larva aktif makan pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari. Ngengatnya berwarna coklat tua, panjang sekitar 15–20 mm dengan rentang sayap 30–40 mm; sayap depan betina berwarna cokelat keabu-abuan dengan garis bergelombang dan spot hitam di bagian tengah. S. mauritia tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Selatan, serta Jawa khususnya Banyumas dan Yogyakarta. - Ulat Grayak Jagung (S. frugiperda)
Berasal dari Benua Amerika hingga akhirnya masuk ke Indonesia, disebut sebagai fall armyworm. Telurnya berwarna kuning pucat dan berubah menjadi coklat muda menjelang menetas, diletakkan dalam kelompok sekitar 100–200 butir. Larva berwarna hijau terang hingga coklat tua dengan garis-garis membujur dan pada instar keenam dapat mencapai panjang sekitar 4,5 cm. Ciri yang paling khas adalah tanda berbentuk huruf Y terbalik pada kapsul kepala, disertai pola spot khas pada bagian abdomen. Pupanya berwarna coklat mengkilap dan berada di dalam tanah pada kedalaman 2–8 cm dalam kokon yang tersusun dari sutera dan partikel tanah. Ngengat jantan memiliki sayap depan abu-abu dan coklat dengan spot putih, sedangkan betina cenderung coklat keabu-abuan, dengan rentang sayap sekitar 32–40 mm. Tanaman inangnya sangat luas, termasuk jagung, bawang, kubis, ubi jalar, kacang tanah, kapas, padi, cabai, kentang, tomat, tembakau, dan jahe. Di Indonesia, keberadaannya pertama kali dilaporkan di Sumatera Barat pada 2019 dan selanjutnya ditemukan di Banten, Bengkulu, Lampung, Sumatera Selatan, hingga Sulawesi Utara.
Deteksi dini menjadi langkah penting dalam mencegah ulat grayak berkembang menjadi populasi yang merugikan. Dengan melakukan pengamatan tanaman secara rutin dan mengenali keberadaan telur, larva, maupun gejala serangan sejak awal, tindakan pengendalian dapat dilakukan secara tepat dan lebih efektif. (AM’2026)
Sumber:
Prabaningrum, L. & Moekasan, T. K. (2021). Ulat grayak, Spodoptera spp.: hama polifag, bioekologi, dan pengendaliannya. IAARD Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15854







