Di antara keanekaragaman tanaman sayuran lokal Indonesia, terubuk merupakan salah satu sayuran yang patut dilirik. Memiliki bunga muda bertekstur lembut seperti telur ikan dan rasa yang khas, tanaman sekeluarga tebu ini menyimpan potensi gizi dan ekonomi yang besar. Tidak mengherankan jika komoditas ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan.
Terubuk (Saccharum edule Hassk.) adalah tanaman dari keluarga tebu yang dimanfaatkan bagian bunganya sebagai sayur. Bentuk tanaman ini beruas-ruas dan berwarna hijau kemerahan dengan bunga berbentuk silindris menyerupai lilin dan memiliki tekstur lembut seperti telur ikan. Pada beberapa daerah terubuk memiliki sebutan khas, seperti tebu telur, sayur lilin, turubus, dan tiwu endog. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa bunga terubuk kaya akan gizi dan mengandung protein (4–6%), kalsium, fosfor, vitamin C, dan serat pangan. Terubuk menjadi sumber nutrisi yang baik, rendah kalori dan kaya serat.
Pemanfaatan Terubuk
Tekstur bunganya yang lembut, menjadikan terubuk mudah diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari olahan sederhana, seperti lalapan rebus dan sayur hingga olahan inovatif, seperti perkedel, abon, kerupuk, nugget, tepung, sup krim, dan panganan lain yang daya simpannya kuat. Di Halmahera, Maluku Utara, terubuk dimanfaatkan sebagai sayur konsumsi dan makanan khas masyarakat, khususnya untuk ibu-ibu yang baru melahirkan untuk membersihkan kandungan dan mengembalikan stamina.
Tidak hanya bunga, daun dan batang terubuk dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak alternatif, terutama saat kemarau. Silase limbah terubuk terbukti dapat membantu meningkatkan bobot sapi hingga 0,6–0,8 per ekor per hari. Integrasi antara tanaman terubuk dan ternak ruminansia dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan, meningkatkan efisiensi biaya, menambah keragaman produk, mengurangi risiko kegagalan panen, hingga meningkatkan pendapatan petani.
Budi Daya Terubuk
Terubuk berproduksi sebanyak dua kali dalam setahun, waktu ideal tanam adalah pada awal musim hujan (Januari). Tanaman ini tumbuh baik pada daerah bertanah gembur dengan pH 5–6 dan ketinggian 1.000–1.500 m di atas permukaan laut. Terubuk tidak memerlukan pemeliharaan yang intensif, daya adaptasinya tinggi sehingga mudah untuk dibudidayakan.
Budi daya terubuk dapat dilakukan dengan setek batang dari ruas ke-4 atau ke-5, ditanam dengan sistem monokultur dengan jarak tanam 1,5 m x1 m atau 1 m x 1 m. Pemeliharaan terubuk dilakukan dengan pembersihan gulma, pengomposan gulma, dan pemberian pupuk kandang. Terubuk akan mulai berbunga dan siap panen pada umur 5–10 bulan, masa produktif 2–3 tahun dan dapat diperpanjang melalui peremajaan. Panen dilakukan dengan memotong bagian pucuk tanaman yang menggembung. Bunga terubuk yang dipanen tanpa kelobot harus segera dikonsumsi, sedangkan yang masih terbungkus dapat bertahan hingga dua minggu.
Peluang Ekonomi Terubuk
Terubuk memiliki potensi pasar yang baik, harga pasarannya tergolong kompetitif dengan selisih harga antara petani dan distributor yang tidak terlalu jauh. Pada pasar tradisional di beberapa daerah seperti Sukabumi dan Halmahera, permintaannya cukup tinggi.
Meskipun tanaman asli Indonesia, produksi terubuk belum merata di berbagai daerah karena perbedaan popularitas dan penyebarannya sebagai sayuran. Sebagian besar terubuk hanya ditanam sebagai tanaman sela atau pagar kebun. Terubuk memiliki potensi menjadi komoditas lokal unggulan apabila dibudidayakan secara intensif. Kajian ekonomi menunjukkan usaha tani terubuk dapat menghasilkan pendapatan hingga 1,6 kali lipat.
Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan terubuk masih memerlukan peningkatan teknik budi daya, perbanyakan, dan pascapanen. Penerapan good agricultural practices (GAP) menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil yang optimal.(AM’2025)
Sumber:
- Pentury, M.M., Koleangan, H.S.J. & Runtuwene, M.R.J. (2017). Kandungan nilai gizi pada sayur lilin (Saccharum edule Hasskarl) makanan khas di Halmahera Utara, Maluku Utara sebelum dan sesudah pengolahan. Pharmacon: Jurnal Ilmiah Farmasi, 6(4). https://doi.org/10.35799/pha.6.2017.17838
- Sinaga, A., Histifarina, D., & Liferdi. (2016). Analisis preferensi konsumen terhadap produksi olahan terubuk. Buletin Hasil Kajian, 6(6). https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6586
- Sukmawani, R., Meilani, E.M., & Ramdan, AM. (2019). Model pengembangan usahatani terubuk. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 3(3). https://doi.org/10.21776/ub.jepa.2019.003.03.18
- Widyawati, Afrilia Tri. (2024). Potensi lokal tanaman terubuk. Buletin Teknologi dan Inovasi Pertanian, 3(2). https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/24609





