Kapulaga bukan hanya memperkaya cita rasa masakan, tetapi juga menyimpan nilai ekonomi tinggi. Di balik prospeknya yang menjanjikan, tanaman rempah beraroma khas ini tak lepas dari ancaman serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat menurunkan hasil panen dan mutu produksi. Karena itu, strategi pengendalian yang cerdas dan berkelanjutan menjadi kunci menjaga potensi rempah eksotis ini.
Tanaman kapulaga (Amomum compactum Soland ex Maton) merupakan salah satu tanaman rempah bernilai ekonomi tinggi dengan prospek pengembangan yang menjanjikan. Namun, dalam proses budi dayanya, tanaman ini menghadapi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Untuk menjaga produktivitas dan kualitas hasil, diperlukan strategi pengendalian OPT yang tepat.
Pengendalian OPT bertujuan menekan populasi hama dan penyakit hingga berada pada tingkat yang tidak menimbulkan kerugian ekonomi, sehingga produksi tetap optimal. Upaya ini juga penting untuk meminimalkan risiko kehilangan hasil akibat serangan hama. Perkembangan dan penyebaran hama tidak hanya dipengaruhi oleh keberadaan inang dan patogen, tetapi juga oleh faktor lingkungan, terutama kondisi iklim dan cuaca yang semakin tidak menentu.
Perubahan lingkungan yang dinamis menyebabkan kondisi hama pada tanaman kapulaga menjadi semakin kompleks. Oleh karena itu, pengelolaan hama harus dilakukan secara menyeluruh, mencakup seluruh tahapan produksi, mulai dari budi daya, pemeliharaan, hingga pascapanen, agar keberlanjutan produksi kapulaga dapat terjaga.
- Hama pada Tanaman Kapulaga dan Cara Pengendalian.Kutu kebul berduri (Aleurocanthus camelliae)
Hama ini merusak tanaman dengan cara mengisap cairan daun, sehingga menyebabkan daun menguning, melengkung, dan mudah gugur. Selain itu, kutu kebul mengeluarkan cairan manis (honey dew) yang menjadi media tumbuh jamur jelaga hitam, sehingga mengganggu proses fotosintesis. Serangan hama ini mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat dan menurunkan hasil panen. Pengendalian kutu kebul dilakukan dengan memangkas daun yang terserang dan sanitasi lahan dengan memusnahkan sisa tanaman yang terserang. - Belalang (Valanga nigricornis)
Belalang merusak tanaman dengan cara memakan bagian daun hingga habis, bahkan pada serangan berat dapat merusak batang muda. Kerusakan yang ditimbulkan menyebabkan tanaman kehilangan kemampuan fotosintesis dan mengalami pertumbuhan terhambat. Bila populasi belalang tinggi, serangan dapat menyebabkan defoliasi total yang berakibat fatal bagi tanaman muda kapulaga. Pengendalian dilakukan dengan mengumpulkan dan memusnahkan telur belalang. Selain itu, pestisida nabati dari ekstrak brotowali, daun tembakau, dan daun sirsak juga dapat digunakan untuk mengendalikan serangan belalang. - Kumbang moncong (Baris sp.)
Ciri khas hama ini adalah moncong panjang pada bagian kepala. Baik imago maupun larvanya dapat merusak tanaman dengan cara menggerek batang atau tangkai daun untuk meletakkan telur. Aktivitas tersebut menyebabkan jaringan pembuluh tanaman rusak, sehingga aliran air dan nutrisi terganggu. Gejala serangan biasanya terlihat dari adanya lubang kecil pada batang serta tanaman yang tampak layu. Jika dibiarkan, kumbang ini dapat menyebabkan penurunan vigor tanaman dan membuka jalan bagi infeksi patogen lain. Pengendalian dapat dilakukan secara biologis dengan memanfaatkan jamur entomopatogen, Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae. Selain itu, penanaman tanaman refugia di sekitar lahan pertanaman dapat membantu mengendalikan populasi hama secara alami. - Kumbang daun (Chalepus sp.)
Kumbang daun dikenal sebagai hama yang menyerang bagian daun tanaman. Imago kumbang ini berukuran kecil hingga sedang, berwarna cokelat atau hijau keemasan. Serangan terjadi ketika kumbang dewasa menggigit permukaan daun sehingga daun menjadi berlubang-lubang. Pada serangan berat, hampir seluruh permukaan daun dapat rusak, mengurangi kemampuan fotosintesis dan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Jika tidak dikendalikan, serangan berulang dapat menurunkan produktivitas kapulaga secara signifikan. Pemangkasan daun yang terserang dilakukan untuk menurunkan serangan berulang. - Penggerek batang (Xyleborus haberkorni)
Penggerek batang merupakan kumbang kecil yang menyerang batang atau pelepah tanaman kapulaga. Kumbang betina menggerek batang untuk membuat lorong dan meletakkan telur di dalamnya. Larva yang menetas kemudian melanjutkan pengerukan jaringan kayu, sehingga menyebabkan aliran nutrisi dan air terhenti. Gejala serangan dapat dilihat dari adanya serbuk halus di sekitar lubang gerekan, batang menjadi lemah, dan tanaman tampak layu. Bila serangan sudah parah, bagian batang bisa kering dan mati, sehingga sangat merugikan bagi tanaman kapulaga. Pengendalian dilakukan dengan membuang tunas terserang dan membersihkan lubang dengan kapas insektisida.
Pengendalian hama secara terpadu bukan hanya strategi teknis, namun juga wujud kesadaran untuk menjamin produktivitas dan mutu kapulaga yang berkelanjutan. (QAR, 2025).
Sumber
- Abdurahim, A., Ayu, G., Wita, W., Retno, K., Tyasningsiwi, W., Tri, G., Enung, P., Suwarno, H., & Maulana, R. (2022). Pengenalan dan pengendalian OPT kapulaga. Pertanian Press. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/23664
- Ernawati, Suharjono, & Fika, W. (2022). Budidaya kapulaga (Amomum cardamomum). Pertanian Press. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/20041






