Di tengah ketergantungan pada impor daging sapi, hadir sapi jawa brebes (jabres) sebagai salah satu potensi sapi lokal yang menjanjikan. Dengan keunggulan genetik dan kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan tropis, sapi jabres berpeluang menjadi penopang penting bagi ketahanan daging nasional.
Sapi jawa brebes (Jabres) telah ditetapkan sebagai sumber daya genetik ternak (SDGT) Jawa Tengah berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2842/Kpts/LB.430/8/2012 tanggal 13 Agustus 2012. Sapi Jabres merupakan salah satu sapi lokal Indonesia yang berasal dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sapi ini perlu mendapatkan perhatian khusus karena penyebarannya yang terbatas.
Keunggulan Sapi Jabres
Sapi lokal ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain bobot badan yang cukup besar (betina 200–300 kg, jantan 350 kg), persentase karkas tinggi (51,29%), mampu beranak setiap tahun bahkan hingga 10–21 kali selama masa hidup, serta daya adaptasi, fertilitas, dan produktivitas yang tinggi. Adaptif terhadap lingkungan lokal, cocok digembalakan. Selain itu, sapi Jabres juga memiliki daging padat, kulit berkualitas, baik kadar lemak karkas rendah, dapat digunakan sebagai ternak pekerja, dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Brebes. Tahan terhadap pakan berkualitas dan kuantitas rendah.
Sapi jabres merupakan persilangan antara sapi peranakan ongole (PO), sapi madura dan sapi bali. Persilangan ini menyebabkan warnanya bervariasi mulai dari cokelat muda, cokelat tua, merah bata, putih, putih kehitaman hingga hitam. Sebagian sapi jabres mempunyai warna bercak putih pada dahinya. Ciri khusus yang membedakan sapi jabres dengan jenis sapi lain dapat dikenali pada bagian pantat dan kaki belakang, yaitu dengan adanya garis hitam mulai dari punggung sampai ekor. Hampir semua sapi jabres tidak mempunyai gumba.
Peningkatan Mutu Genetik Sapi Jabres
Meskipun ternak sapi jabres terus berkembang, kualitas ternak sapi ini mengalami penurunan mutu genetik. Penurunan mutu genetik terjadi oleh semakin langkanya pejantan yang layak digunakan sebagai pemacek, terjadi perkawinan sedarah, sistem pemeliharaan yang masih tradisional, dan belum adanya seleksi induk. Upaya peningkatan mutu genetik ternak dilakukan melalui pengembangbiakan ternak yang memiliki potensi genetik yang baik dengan metode seleksi, perkawinan, pemurnian dan atau kombinasi ketiganya. Pada ternak sapi potong lokal, pemurnian hanya dapat dilakukan dengan cara seleksi dan pembentukan breeding stock.
Pemerintah Kabupaten Brebes terus berupaya untuk meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak sapi jabres melalui penerapan teknologi peternakan khususnya bidang reproduksi dengan sistem perkawinan inseminasi buatan (IB) dan mengembangkan intensifikasi kawin alam (InKA) dengan memberi bantuan pejantan unggul jenis sapi jabres kepada kelompok ternak. Bantuan pejantan masih diperlukan oleh kelompok yang kondisinya tidak memungkinkan untuk menerapkan sistem perkawinan IB.
Menjaga keberlanjutan sapi jabres sebagai sapi potong unggulan Jawa Tengah berarti melestarikan kekayaan genetik bangsa. Dengan sinergi antara teknologi, pemerintah, dan masyarakat, sapi jabres dapat tumbuh menjadi kebanggaan lokal sekaligus penopang ketahanan daging nasional.(WD’2025)
Sumber:
- Utomo, B. (2016). Pengembangan sumber daya genetik sapi jabres untuk produksi daging. IAARD Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/8729 - Adinata,Y., Affandhy, L., & Pamungkas, D. (2018). Intervensi model perbibitan sapi jabres untuk peningkatan sosial ekonomi pedesaan. Dalam Prosiding Seminar Nasional Sumber Daya Genetik. Loka Penelitian Sapi Potong.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/11541






