Melimpahnya ampas sagu dari proses produksi tepung sering kali dipandang sebagai limbah yang tidak berguna. Padahal, dengan teknologi yang tepat, bahan ini berpotensi menjadi sumber pakan alternatif bagi ternak. Dengan teknik silase, ampas sagu dapat diawetkan melalui proses fermentasi sehingga tidak hanya memperpanjang daya simpan, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas serta nilai nutrisinya.
Sagu dikenal sebagai sumber karbohidrat utama yang patinya diekstraksi dari batang untuk menghasilkan tepung. Hasil samping pengolahan batang sagu menjadi pati adalah ampas sagu. Perbandingan hasil pengolahan antara tepung dan ampas mencapai 1:6 sehingga jumlahnya sangat melimpah. Ampas sagu termasuk dalam kategori wet by-products atau limbah basah yang mengandung kadar air sangat tinggi. Kandungan kadar air pada ampas sagu bisa mencapai hingga 70-80%, apabila tidak cepat diproses ampas akan mudah rusak dan membusuk. Di sisi lain, tingginya kadar air ternyata menjadi keunggulan bagi ampas sagu, melalui teknologi silase limbah basah cocok diolah menjadi pakan ternak.
Silase adalah pakan hijauan ternak yang diolah dengan teknik pengawetan pakan berbasis fermentasi anaerob. Melalui pengawetan, kesegaran bahan pakan lebih terjaga dari segi kualitas dan daya simpan. Teknologi silase bekerja melalui aktivitas mikroba yang mengubah karbohidrat terlarut menjadi asam organik, terutama asam laktat. Proses ini dapat menurunkan pH bahan dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk.
Bahan dan Peralatan
Bahan utama yang digunakan pada proses silase adalah ampas sagu segar. Selain itu, diperlukan bahan aditif sebanyak 10% dari bobot bahan. Bahan aditif berfungsi sebagai sumber gula dan energi bagi mikroba fermentasi. Bahan yang ditambahkan di antaranya molase dan dedak jagung atau tepung tapioka. Peralatan yang digunakan dalam proses ini adalah terpal atau lantai jemur, alat pencampur, dan wadah penyimpanan berupa drum plastik atau kantong plastik tebal.
Tahap Pembuatan
Proses pembuatan silase ampas sagu dapat dilakukan melalui beberapa tahapan berikut:
- Penjemuran
Ampas sagu segar dijemur di bawah sinar matahari selama sekitar 2–3 hari atau sesuai kondisi cuaca. Penjemuran bertujuan menurunkan kadar air hingga mencapai kondisi optimal untuk fermentasi. Ampas sagu tidak perlu dikeringkan sempurna, cukup hingga terasa lebih remah dan tidak terlalu basah saat digenggam. - Pencampuran Bahan
Ampas sagu yang telah dijemur kemudian dicampur secara merata dengan bahan aditif seperti molase dan dedak jagung atau tepung tapioka, dengan dosis sekitar 10%. Pencampuran harus dilakukan hingga menyeluruh di seluruh bagian agar proses fermentasi merata dan optimal. - Pemadatan dan Penyimpanan
Campuran ampas sagu dan bahan aditif dimasukkan dalam wadah penyimpanan untuk kemudian dipadatkan sekuat mungkin hingga semua udara keluar. Pemadatan menjadi proses penting untuk mengeluarkan keberadaan oksigen yang dapat mengganggu proses fermentasi dan merusak silase. Campuran yang telah padat ditutup rapat hingga kedap udara. - Fermentasi
Wadah silase disimpan di tempat teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung. Proses fermentasi berlangsung selama kurang lebih 10–14 hari, selama proses ini wadah tidak boleh dibuka agar kondisi anaerob terjaga.
Silase Ampas Sagu sebagai Pakan Kambing
Silase ampas sagu dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak kambing. Sebagai pakan berserat, silase ampas sagu dapat menggantikan peran rumput, terutama pada musim atau wilayah dengan keterbatasan hijauan. Proses fermentasi menghasilkan aroma asam segar dan rasa relatif manis yang meningkatkan palatabilitas sehingga konsumsi pakan oleh kambing menjadi lebih baik. Fermentasi juga membantu melunakkan struktur serat, membuat nutrient lebih mudah dicerna oleh mikroba rumen dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan. Silase ampas sagu juga terbukti mampu menunjang pertumbuhan kambing dan meningkatkan pertambahan bobot badan karena adanya kandungan energi.
Dari sisi peternak, silase dapat memperpanjang masa simpan ampas sagu hingga 1–2 bulan dan berperan sebagai cadangan pakan yang lebih stabil. Pemanfaatan limbah sagu juga dapat menekan biaya pakan sehingga dapat meningkatkan keuntungan usaha ternak. Pengolahan ampas sagu menjadi silase juga berkontribusi pada pengurangan pencemaran lingkungan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan, terutama di wilayah sentra tanaman sagu.
Olahan ampas sagu menjadi silase menunjukan bahwa limbah basah yang selama ini terabaikan dapat bertransformasi menjadi pakan kambing yang fungsional dan bernilai. Melalui proses fermentasi yang sederhana, ampas sagu tidak hanya lebih awet dan disukai ternak, tetapi juga mampu mendukung pertumbuhan serta efisiensi usaha peternakan. (AM’2026)
Sumber:
- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2018). 600 teknologi inovatif pertanian. IAARD Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5574 - Sirait, J., Simanihuruk, K. (2017). Silase ampas sagu menggunakan tiga bahan aditif sebagai pakan basal kambing boerka fase pertumbuhan. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2017. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26017





