Pisang bukan sekadar buah tropis yang manis dan bergizi. Di balik popularitasnya sebagai komoditas unggulan Asia Tenggara dan penyumbang besar konsumsi buah di Indonesia, tanaman pisang menghadapi ancaman serius dari berbagai penyakit. Layu bakteri, layu fusarium, bercak daun sigatoka hingga kerdil pisang adalah penyakit yang menurunkan produktivitas dan kualitas buah. Mengenal penyakit pisang dan pengendaliannya menjadi wajib untuk menjaga tanaman pisang tetap sehat.
Pisang (Musa sp.) menjadi buah populer dalam dan luar negeri. Sebanyak 90% produksi pisang Indonesia digunakan untuk memenuhi konsumsi dalam negeri, sisanya diekspor untuk memenuhi permintaan pisang luar negeri. Antusiasme masyarakat terhadap komoditas pisang menuntut petani untuk dapat terus menghasilkan produksi yang cukup atau bahkan melimpah, pengenalan penyakit tanaman pisang menjadi penting agar pisang tetap sehat dan penyakit tanggap dicegah dan dikendalikan sebelum menyebar.
Mengenal Penyakit Tanaman Pisang
Penyakit pada tanaman pisang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi. Berikut adalah penyakit yang dapat terjadi pada tanaman pisang:
- Penyakit layu
Penyakit yang paling berbahaya dan mematikan karena mudah berpindah dan sukar dikendalikan, bahkan dapat bertahan dalam tanah dalam jangka waktu yang cukup lama. Terdapat dua jenis penyakit layu yaitu:- Layu bakteri (penyakit darah), disebabkan oleh bakteri Pseudomonas (Ralstonia) solanacearum (BDB), bakteri dapat muncul melalui perantara serangga diptera (sejenis lalat). Gejala penyakit ini terdiri dari: 1) terjadinya penguningan pada daun mulai pangkal, pinggir hingga semua bagian daun; 2) anakan terlihat kerdil dan layu; 3) empulur batang semu dan tangkai terlihat membusuk; 4) bonggol mengeluarkan cairan berwarna coklat kemerahan ketika dipotong; 5) buah tidak sempurna dan kering, apabila terlihat normal maka membusuk didalam (coklat kehitaman); 6) jantung pisang mengering, kelopak sulit lepas, dan mengeluarkan cairan seperti susu apabila dipotong.
Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan: 1) menggunakan bibit sehat; 2) sanitasi lahan dengan tidak melakukan tumpang sari dan menanam di lahan bekas pertanian tanaman tomat-tomatan (kelompok tanaman ini diduga menjadi inang bakteri); 3) membuat drainase kebun; 4) pengendalian serangga penular (ulat penggulung daun, Chloropidae, Platypezidae dan Drosophilidae); 5) membungkus buah dengan plastik transparan; 6) sterilisasi alat panen dengan alkohol atau sabun. - Layu fusarium (penyakit panama), disebabkan oleh cendawan (jamur) Fusarium oxysporum f. sp. Cubense (FOC). Gejala penyakit terdiri dari: 1) daun berwarna kuning kehijauan dimulai dari pinggir daun, infeksi akan menyebar dimulai dari daun tua hingga daun daun muda; 2) anakan yang terserang menjadi kerdil, daunnya menyempit, dan batang semu akan pecah dan mengembang ke atas; 3) terdapat jaringan/benang berwarna hitam, ungu, coklat, atau kuning pada empulur batang semu dan tangkai; 4) bagian buah menjadi kecil, layu, dan matang sebelum waktunya; 5) jantung pisang terlihat normal diawal, namun akan tumbuh kerdil dan layu seiring waktu.
Pengendalian layu fusarium tanaman pisang dapat dilakukan dengan: 1) penggunaan bibit bebas penyakit; 2) melakukan pergiliran tanaman; 3) melakukan sanitasi lahan dengan membersihkan gulma inang penyakit (rumput teki dan bayam-bayaman); 4) pengamatan keberadaan FOC (ambil tanah, campurkan kompos kotoran ayam (diamkan 15 hari), tanam anakan pisang, amati selama 3 bulan); 5) melakukan pemusnahan tanaman sakit dengan membongkar, membakar, atau penyuntikan; 6) Sterilisasi alat panen dengan alkohol, bayclean, atau pencucian dengan sabun.
- Layu bakteri (penyakit darah), disebabkan oleh bakteri Pseudomonas (Ralstonia) solanacearum (BDB), bakteri dapat muncul melalui perantara serangga diptera (sejenis lalat). Gejala penyakit ini terdiri dari: 1) terjadinya penguningan pada daun mulai pangkal, pinggir hingga semua bagian daun; 2) anakan terlihat kerdil dan layu; 3) empulur batang semu dan tangkai terlihat membusuk; 4) bonggol mengeluarkan cairan berwarna coklat kemerahan ketika dipotong; 5) buah tidak sempurna dan kering, apabila terlihat normal maka membusuk didalam (coklat kehitaman); 6) jantung pisang mengering, kelopak sulit lepas, dan mengeluarkan cairan seperti susu apabila dipotong.
- Penyakit bercak daun sigatoka
Tanaman terinfeksi oleh cendawan Mycosphaerilla musicola. Penyakit bercak daun dapat menyebabkan permukaan daun menjadi rusak hingga akhirnya mati karena mengganggu proses pemasakan daun (fotosintesis). Produksi akan menurun pada kualitas dan kuantitasnya. Buah akan masak sebelum waktunya dan bahkan dapat menyebabkan kematian tanaman.
Gejala akan terlihat pada daun ketiga dan keempat dimulai dengan bercak kecil berwarna kuning pucat hingga akhirnya membesar dan memanjang. Bercak berbentuk bulat telur dengan pusat berwarna abu dan mengering. Ukuran bercak biasanya menjadi lebih lebar pada tanaman muda.
Jenis pisang yang mudah terserang diantaranya kelompok ambon (Cavendish dan Gross Michell), mas, barangan dan raja sere. Pengendalian dapat dilakukan dengan mengatur jarak tanam (tidak rapat untuk mengurangi kelembaban), pemangkasan daun tua yang terserang, membuang dan membakar serasah daun yang terserang, penyemprotan fungisida sistemik (Benzimidazole dan Dithiocarbamate). - Penyakit kerdil pisang
Disebut juga dengan banana bunchy top virus, penyakit ini disebabkan oleh virus dan berbahaya untuk tanaman pisang. Penyakit ditularkan secara lokal oleh kutu daun (Pentalonia negronervosa). Kutu biasanya berada pada pangkal batang semu di permukaan tanah, diantara pelepah daun, dan pada anakan muda yang baru muncul di permukaan tanah. Pada kondisi tertentu kutu dapat juga ditemukan pada puncak batang semu, leher daun, dan pangkal tangkai daun.
Gejala awal penyakit ini sulit terdeteksi. Serangan mulai terlihat ketika terjadi pemendekan ruas daun dan daun yang menyempit dan tegak, hingga tepi daun yang menggulung dan kekuningan. Selain itu dijumpai juga garis hijau gelap pada tulang daun, tangkai daun, hingga batang semu.
Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan menanam bibit yang sehat, sanitasi kebun, pengendalian serangga penular (penggunaan insektisida sistemik), dan eradiksi/pembongkaran rumput yang sakit.
Tidak serumit yang dibayangkan, penyakit tanaman pisang dapat dicegah sedini mungkin melalui bibit unggul dan sanitasi lahan. Pisang sehat tidak hanya menghasilkan panen hebat, sebagai buah favorit masyarakat produksi pisang juga menjadi penopang ekonomi dan gizi masyarakat. Mengenal penyakit pada tanaman pisang dan memahami pengendaliannya adalah bentuk kesigapan dalam menjaga produksi pisang yang sehat, produktif, serta berkelanjutan. (AM’2025)
Sumber:
- Mulyanti, N., Suprapto, Hendra, J. (2008). Teknologi Budidaya Pisang. Bandar Lampung: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/21068 - Etty Riana, Y., dkk. (2020). Buku Pedoman Budidaya Pisang. Jakarta: Direktorat Buah dan Florikultura.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/20723



