Di balik bijinya yang kecil, wijen memiliki potensi besar sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi. Tidak hanya menjadi sumber minyak nabati, tetapi juga bahan penting bagi industri pangan, farmasi, hingga kosmetik. Namun, kapasitas produksi wijen nasional masih belum mampu mencukupi kebutuhan industri. Akibatnya, impor pun tetap menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat setiap tahun.
Tanaman wijen (Sesamum indicum L.) berasal dari daerah Afrika Timur dan India, kemudian menyebar luas ke berbagai negara beriklim tropis dan subtropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini telah lama dikenal sebagai salah satu sumber minyak nabati tertua di dunia. Di Indones, wijen banyak dibudidayakan di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan sebagian daerah Sulawesi karena tanaman ini dapat tumbuh baik pada lahan kering dengan drainase yang baik dan curah hujan yang tidak terlalu tinggi.
Wijen merupakan tanaman yang toleran terhadap kondisi kekurangan air dan mampu menghasilkan mutu produksi yang baik meskipun ditanam pada lahan dengan tingkat kesuburan rendah. Oleh karena itu, wijen sering dijadikan alternatif tanaman pada lahan marginal. Di daerah lahan kering, wijen biasanya ditanam pada awal musim hujan bersamaan dengan tanaman palawija, sedangkan di lahan sawah penanaman dilakukan setelah panen padi rendengan. Petani wijen di Indonesia umumnya merupakan petani kecil yang masih menerapkan cara budi daya tradisional, sehingga produktivitas yang dihasilkan masih tergolong rendah dibandingkan potensi maksimalnya.
Proses panen wijen dilakukan ketika sekitar ⅔ polong yang telah berwarna hijau kekuningan, sebelum polong pecah dan biji terjatuh. Pemanenan dilakukan menggunakan sabit bergerigi dengan cara memotong batang sekitar 10–15 cm di bawah posisi polong terbawah. Batang wijen hasil panen kemudian diikat dengan diameter setiap ikatan sekitar 10–15 cm, lalu dijemur dalam posisi berdiri. Setelah kering, batang dipukul-pukul dengan tongkat untuk mengeluarkan biji dari polong. Jika kadar air biji masih tinggi, penjemuran diulang hingga kadar air mencapai sekitar 7% agar biji lebih tahan disimpan dan siap untuk diolah.
Kandungan Nutrisi dan Kegunaan Wijen
Biji wijen dimanfaatkan baik sebagai bahan baku industri, bahan konsumsi rumah tangga, maupun bahan obat-obatan tradisional. Hasil samping pengolahan minyak wijen berupa bungkil masih mengandung kadar protein yang tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kecap wijen maupun sebagai pakan ternak berkualitas. Wijen juga kaya akan protein, serat, kalsium, magnesium, vitamin E, serta antioksidan alami yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Selain itu, minyak yang dihasilkan dari biji wijen mengandung lemak tak jenuh dalam jumlah tinggi sehingga dapat dijadikan pilihan minyak nabati yang lebih sehat untuk konsumsi sehari-hari.
Minyak wijen umumnya dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu minyak makan dan minyak kesehatan. Minyak makan digunakan sebagai bahan masakan untuk berbagai jenis hidangan seperti tumisan, nasi goreng, mi, masakan ikan, ayam, dan sebagainya. Sementara minyak kesehatan memiliki berbagai khasiat, antara lain menjaga stamina tubuh, membantu menurunkan tekanan darah tinggi, menetralisir kadar kolesterol, menjaga kesehatan jantung, mengatasi konstipasi, serta merawat kesehatan dan kecantikan kulit. Selain digunakan untuk konsumsi dan kesehatan, minyak wijen juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku penting dalam industri farmasi dan kosmetik karena kandungan nutrisinya yang kaya serta sifatnya yang mudah diserap oleh kulit.
Memperkuat produksi dalam negeri melalui dukungan teknologi pertanian modern dan pemberdayaan petani adalah kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kemandirian nasional dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati, sekaligus membuka peluang ekspor dan memperkuat perekonomian sektor pertanian. (QAR, 2025).
Sumber
- Andri, K. B. (2024). Intip potensi bisnis wijen di indonesia. Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Perkebunan. https://perkebunan.brmp.pertanian.go.id/berita/intip-potensi-bisnis-wijen-di-indonesia
- Soenardi. (2003). Budi daya dan pascapanen wijen (Sesamum indicum Linn.). Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/12634
- Sugiyarti, T. (2007). Industri berbahan baku wijen dan permasalahannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15737
- Tirtosuprobo, S. (2007). Pengembangan tanaman wijen (Sesamum indicum L.) di Kabupaten Sukoharjo. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15755





