Satu orang petani kini mampu mengelola sawah seluas 400 hektare, mulai dari olah tanah hingga panen, tanpa perlu menyemai bibit satu persatu. Hal ini bukan khayalan semata, praktik nyata telah dilakukan oleh petani di Arkansas, Amerika Serikat. Pengelolaan padi skala luas tersebut kini diadopsi di Indonesia pada lahan sawah dengan metode bernama PM-AAS (Pertanian Modern - Advanced Agricultural System).
Produksi padi di Indonesia menunjukkan tren positif di tahun 2025, dengan proyeksi mencapai sekitar 60,34 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) dan produksi beras sekitar 34,77-35,6 ton. Namun, tantangan tetap ada yaitu kondisi tenaga kerja petani padi di Indonesia yang mayoritas berusia menua (51-60 tahun), produktivitas nasional masih tertinggal dari negara tetangga, dan usaha tani skala kecil mendominasi. Meskipun demikian, sektor pertanian tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Di tengah cita-cita Indonesia menjadi lumbung pangan dunia pada 2030, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian mengembangkan sistem bernama Pertanian Modern Model Advanced Agricultural System atau PM-AAS.
PM-AAS merupakan sistem pertanian intensif berbasis teknologi tinggi yang menekankan efisiensi, mekanisme, dan presisi. Model ini mengadopsi praktik pertanian yang berkembang di Arkansas, khususnya di wilayah Delta Arkansas. Petani tersebut menerapkan sistem tanam benih langsung dengan jarak tanam rapat, sehingga mampu mengoptimalkan penggunaan lahan. Dalam praktiknya petani tersebut dapat mengelola padi berskala luas dengan mencapai rata-rata 200 ha. Selain itu, petani di sana menerapkan manajemen intensif terhadap unsur hara, irigasi, dan pengendalian gulma dengan memanfaatkan data yang akurat, sehingga produktivitas dan efisiensi dapat dicapai secara optimal.
Enam prinsip utama PM-AAS
PM-AAS dibangun dengan menggunakan enam prinsip, yaitu:
- Tanam rapat dalam baris, penerapan sistem tanam dengan jarak rapat dan teratur dalam baris.
- Efisiensi sumber daya, pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan sumber daya, khususnya air irigasi.
- Mekanisme pertanian, penggunaan alat dan mesin pertanian modern seperti traktor, land leveler (mesin perata tanah), rotavator, drone, drum seeder, dan combine harvester.
- Implementasi berbasis korporasi (skala luas), model pengelolaan lahan pertanian secara profesional dan berskala besar melalui konsolidasi.
- Intensifikasi produksi, fokus pada peningkatan hasil produksi per hektar.
- Spesifik lokasi, penerapan sistem pertanian yang disesuaikan dengan karakteristik lokasi, khususnya pada lahan datar, luas, dan memiliki pengaturan air yang mudah.
Teknologi Pertanaman Padi dalam PM-AAS
- Sistem Tabela (Tanam Benih Langsung)
Pertanaman dengan PM-AAS menggunakan sistem tanam benih langsung (Tabela) tanpa persemaian, kebutuhan benih yang digunakan sebanyak 80-100 kg/ha. Benih terlebih dahulu direndam dan diperam masing-masing 12 jam sebelum ditanam memakai drum seeder dengan pola larikan 4:1 atau 6:1, yaitu deretan tanam padat yang diselingi lorong kosong 50 cm setiap 4 atau 6 baris. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengelolaan, penetrasi cahaya, serta mendukung sirkulasi udara yang lebih baik. Varietas yang dipilih harus memiliki karakteristik khusus seperti malai lebat, batang kokoh, perakaran yang kuat, tahan rebah, tahan hawar daun bakteri dan blas, serta tahan anaerob germination agar tetap tumbuh meski sempat tergenang.
Pengelolaan air dengan AWD dan AWS
Pengelolaan air PM-AAS mengikuti sistem alternate wetting dying (AWD), penggenangan dan pengeringan bergantian sesuai fasenya, mulai dari macak-macak saat tabela, wetting hingga drying menjelang panen. Pemantauan tinggi muka air dapat menggunakan pipa kontrol AWD. Adapun automatic weather station (AWS) merupakan perangkat pemantauan otomatis pada cuaca, lingkungan tumbuh, dan pertumbuhan serta produktivitas tanaman padi.
Uji coba PM-AAS pada tiga musim di Kebun Percobaan (KP) Muara mencatat kenaikan produktivitas. Di Soppeng, Sulawesi Selatan, PM-AAS juga menghasilkan produktivitas yang sangat tinggi dengan varietas yang digunakan adalah Inpago 12. Keberhasilan PM-AAS membuktikan bahwa modernisasi pertanian, dari tanam rapat, efisiensi air, hingga modernisasi penuh, mampu mendapatkan produktivitas padi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. (DM’2026)
Sumber:
Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi. (2026). Petunjuk Teknis Pertanian Modern Model AAS. Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/29779





