Di tengah kekayaan unggas lokal Indonesia, salah satu jenis yang kerap menarik perhatian adalah itik Serati. Sekilas, bentuknya tampak berbeda dari itik biasa. Itik ini sering disebut unggas “blasteran” karena merupakan hasil persilangan unik. Di kalangan peternak populer dengan sebutan Tiktok.
Itik Serati merupakan hasil persilangan antara itik betina (Anas platyrhynchos domesticus) dan entok jantan (Cairina moschata domestica atau itik muscovy) melalui penerapan teknologi inseminasi buatan. Pembuatan itik hibrida Serati menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan produksi serta kualitas daging itik di Indonesia.
Keunggulan Itik Serati
Sebagai itik pedaging, Serati atau Tiktok memiliki sejumlah keunggulan, yaitu:
- Pertumbuhannya tergolong cepat sehingga bobot potongnya lebih besar.
- Tekstur dagingnya lebih empuk, rasanya gurih dan tidak amis, serta memiliki kadar lemak yang rendah, yakni sekitar 1,5 persen.
- Masa pemeliharaannya relatif singkat, hanya sekitar 8–10 minggu.
Karakteristik biologis yang menonjol dari itik Serati adalah infertilitas. Sebagai hasil persilangan antarspesies, itik ini umumnya tidak dapat berkembang biak secara alami. Akibatnya, ketersediaan bibit sepenuhnya bergantung pada inseminasi buatan yang dilakukan oleh peternak terlatih. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk mengembangkan usaha secara profesional.
Pemilihan Induk Unggul
Tahap awal dalam produksi itik Serati adalah seleksi induk yang berkualitas. Itik betina yang digunakan harus sehat, aktif, tidak cacat, serta memiliki bobot badan sesuai standar umur. Produktivitas telur menjadi indikator penting karena telur yang berkualitas akan meningkatkan keberhasilan penetasan. Induk betina juga sebaiknya berasal dari galur dengan riwayat produksi baik dan bebas penyakit.
Sementara itu, entok jantan dipilih berdasarkan postur tubuh besar, dada lebar, pertumbuhan cepat, dan kondisi fisik prima. Kualitas sperma menjadi faktor kunci dalam keberhasilan inseminasi buatan. Oleh karena itu, pejantan harus dipelihara dengan pakan bergizi seimbang dan lingkungan yang nyaman agar performa reproduksinya optimal. Seleksi induk yang ketat akan menghasilkan bibit Serati dengan daya tumbuh unggul dan kualitas daging yang baik..
Perawatan Bibit
Bibit itik Serati yang baru menetas memerlukan penanganan intensif, terutama pada fase awal (brooding). Beberapa hal penting dalam perawatan bibit:
- Suhu kandang dijaga stabil sekitar 30–32°C pada minggu pertama, lalu diturunkan secara bertahap.
- Kebersihan kandang dijaga, lantai harus kering dan tidak lembap, serta kepadatan populasi disesuaikan.
- Pemberian pakan dengan protein cukup tinggi mendukung pertumbuhan cepat: fase starter protein sekitar 18,7% dan fase grower 15,4%.
- Air minum bersih tersedia setiap saat.
- Program pencegahan penyakit meliputi vaksinasi dan pemberian vitamin untuk meningkatkan imunitas.
- Pengamatan rutin terhadap kondisi fisik, aktivitas, dan nafsu makan untuk memastikan pertumbuhan optimal.
Pemeliharaan
Itik Serati relatif mudah dirawat karena memiliki daya tahan tubuh baik dan mampu beradaptasi pada berbagai sistem budidaya, baik intensif maupun semi-intensif. Pakan yang digunakan mirip dengan itik pedaging lain, berupa campuran konsentrat, dedak, dan tambahan hijauan atau pakan alternatif.
Lingkungan kandang harus memiliki ventilasi baik, pencahayaan cukup, serta sanitasi terjaga. Pemeriksaan kesehatan rutin dan seleksi ulang dilakukan untuk memastikan hanya individu terbaik yang dipertahankan sebagai induk. Menjelang masa produksi, induk betina dipantau produktivitas telurnya, sedangkan entok jantan diperiksa kualitas spermanya secara berkala.
Dengan manajemen yang terintegrasi sejak pemilihan induk hingga perawatan calon induk, potensi unggul itik Serati dapat dimaksimalkan. Inovasi persilangan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas ternak, tetapi juga memperkuat posisi itik Serati sebagai alternatif unggas pedaging berkualitas di Indonesia.
Sumber
- Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten. (2010). Budidaya domba dan itik serati (tiktok). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten.
- Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. (2018). Unggas unggul: ayam-itik-puyuh. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5368
- Setioko, A. R. (2011). Teknologi inseminasi buatan untuk meningkatkan produktivitas itik hibrida serati sebagai penghasil daging. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/19737





