Gulma bukan hanya tanaman pengganggu, tetapi juga pesaing utama tebu dalam memperoleh air, unsur hara, cahaya, dan ruang tumbuh. Jika tidak dikendalikan, keberadaannya dapat menurunkan hasil tebu hingga 12–72%. Untuk itu, mengenali jenis gulma dan melakukan deteksi sejak dini menjadi langkah penting untuk mencegah kehilangan hasil serta mempertahankan produktivitas tebu.
Keberadaan gulma menimbulkan kompetisi yang sangat merugikan bagi tanaman utama. Gulma bersaing memperebutkan air, unsur hara, cahaya matahari, serta ruang tumbuh. Pada pertanaman tebu, kemunculan gulma dipengaruhi oleh keberadaan biji, umbi, stolon, maupun rimpang yang tersimpan di dalam tanah. Ketika kondisi lingkungan mendukung, gulma akan berkecambah dan berkembang lebih cepat dibandingkan tanaman tebu.
Pada tanaman tebu terdapat periode kritis kompetisi, yaitu masa ketika tanaman sangat peka terhadap persaingan dengan gulma. Periode kritis terjadi dalam waktu ±45 hari setelah tanam, yaitu mulai dari fase pertumbuhan hingga pembentukan anakan. Pada fase awal pertanaman, tebu belum memiliki tajuk yang mampu menutupi permukaan tanah, sehingga gulma memiliki peluang tumbuh yang lebih besar karena cahaya matahari masih leluasa menjangkau permukaan tanah. Selain itu, pengolahan tanah, irigasi, serta pemupukan yang ditujukan untuk tanaman tebu secara tidak langsung juga mendukung pertumbuhan gulma. Akibatnya, populasi gulma dapat berkembang dalam waktu singkat.
Selama periode ini, gulma harus dikendalikan karena keberadaannya dapat menghambat perkembangan tanaman dan menurunkan hasil panen. Setelah tanaman memasuki fase pertumbuhan lanjut, tajuk daun mulai menutup permukaan tanah dan sistem perakaran berkembang lebih luas sehingga kemampuan tanaman dalam bersaing dengan gulma meningkat.
Beberapa gulma menjadi inang bagi hama dan penyakit tanaman tebu serta menyebarkan senyawa alelopati sehingga menghambat pertumbuhan tebu. Hambatan pertumbuhan dapat terjadi sejak fase awal pembentukan batang dan proses akumulasi gula. Gejala kerusakan lebih lanjut akan berdampak pada jumlah anakan yang berkurang, bentuk batang lebih kecil, daun kurang hijau karena kekurangan unsur hara, dan pertumbuhan menjadi tidak seragam.
Gulma pada Pertanaman Tebu
Terdapat tiga kelompok utama gulma pada pertanaman tebu , yaitu: 1) gulma daun lebar, meliputi Euphorbia hirta, Commelina benghalensis, dan Cleome viscosa; 2) gulma daun sempit, umumnya didominasi oleh Echinochloa spp; dan 3) gulma golongan teki, banyak ditemukan jenis Cyperus rotundus. Ketiga kelompok ini sering ditemukan pada pertanaman tebu di lahan sawah.
Pertanaman tebu di lahan kering memiliki keragaman gulma yang lebih tinggi. Beberapa spesies yang umum ditemukan, antara lain Ageratum conyzoides, Borreria alata, Mikania micrantha, Imperata cylindrica, Cynodon dactylon, Digitaria sanguinalis, hingga Sorghum halepense. Kondisi tersebut menyebabkan pengendalian gulma di lahan kering relatif lebih sulit dibandingkan di lahan sawah karena jenis gulma yang tumbuh lebih beragam dan memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi.
Strategi Pengendalian Gulma
Pengendalian gulma pada pertanaman tebu bertujuan menekan populasinya hingga tidak berpotensi merugikan secara ekonomi. Pendekatan yang direkomendasikan adalah pengendalian gulma terpadu (PGT) yang mengombinasikan berbagai metode pengendalian.
Pengendalian gulma dilakukan dengan tindakan preventif, seperti mengenali jenis gulma dominan dan mencegah penyebarannya. Selanjutnya dilakukan pengendalian secara kultur teknis melalui pengaturan populasi tanaman, penggunaan sistem tanam juring ganda, tumpang sari dengan kacang tanah atau bawang merah, serta penggunaan mulsa jerami atau tanaman penutup tanah untuk menghambat perkecambahan gulma.
Apabila gulma mulai berkembang, penyiangan secara mekanis menggunakan cangkul, garpu, atau koret dapat dilakukan. Sementara itu, penggunaan herbisida menjadi pilihan terakhir apabila populasi gulma sudah tinggi dan sulit dikendalikan secara manual. Penggunaan herbisida harus memperhatikan ketepatan jenis, dosis, waktu aplikasi, serta kondisi lingkungan agar efektif sekaligus meminimalkan dampak terhadap tanaman maupun lingkungan.
Pemahaman mengenai faktor kemunculan, jenis, gejala kerusakan, periode kritis, dan strategi pengendalian gulma menjadi kunci dalam mengelola pertanaman tebu yang efektif. Penerapan pengendalian gulma terpadu sesuai waktu dan kondisi yang tepat juga dapat menjaga produktivitas, tidak hanya menghasilkan panen maksimal, tetapi juga turut mengefisiensikan biaya produksi dan pemeliharaan. (AM’2026)
Sumber:
Cholid, M. (2016). Gulma tanaman tebu dan pengendaliannya. Dalam Subiyakto, et al. (Eds.) Peningkatan produktivitas tebu untuk mempercepat swasembada gula. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/7171






