Di pasar kuliner global, terdapat tren panganan berwarna ungu cerah yang estetik. Warna ini mudah ditemukan dalam es krim, roti, kue, latte dan pencuci mulut lainnya. Filipina menjadi pencetus ikon kuliner ini dengan memanfaatkan “ube”. Dibalik popularitasnya, terdapat fakta yang jarang disadari: ube berasal dari kelompok umbi yang sama dengan uwi atau ubi kelapa (Dioscorea alata). Tidak sekadar tren, ubi kelapa dapat menjadi pangan fungsional yang melebarkan diversifikasi pangan lokal untuk ketahanan pangan bangsa.
Popularitas ube di kancah global, memberi momentum emas bagi ubi kelapa untuk bersinar. Di Filipina, ubi kelapa terutama uwi ungu sangat populer diolah menjadi selai (haleyang ube), desert dan penganan manis lainnya. Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki potensi yang sama dalam pengembangan pangan alternatif terutama pada umbi lokal, termasuk ubi kelapa, uwi, huwi atau ube ini.
Ubi kelapa atau uwi (Dioscorea alata) telah lama dikenal masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Tumbuhan merambat ini memiliki umbi dengan bentuk dan warna yang beragam, mulai dari putih, krem, bahkan ungu. Budidaya ubi kelapa masih dilakukan dalam skala terbatas di beberapa daerah diantaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.
Budidaya Ubi Kelapa
Tanaman ubi kelapa termasuk cukup adaptif dan mudah dipelihara pada lingkungan tropis. Tumbuh dalam kelembaban sedang hingga lembab dengan curah hujan sekitar 1.000–1.500 mm per tahun. Periode pertumbuhan terjadi sekitar 8–10 bulan sebelum memasuki masa dormansi. Ubi kelapa dapat ditanam secara tumpangsari maupun monokultur. Panen umbi terbaik dapat dilakukan pada umur 9 bulan dengan ciri daun menguning hingga rontok dan pohon mengering.
Bibit
Bibit pertanaman dapat diperoleh dari biji maupun umbi. Pada pertanaman biji terdapat kekurangan yaitu tanaman baru sering tidak memiliki sifat yang sama dengan induk, serta jumlah umbi persatuan yang lebih sedikit.Umbi yang baik untuk pertanaman adalah yang sedang tidak tumbuh (dormant) serta digali pada musim kemarau ketika bagian tanam atas mengering dan mati. Masa dormansi umbi terjadi sekitar 2-4 bulan setelah panen. Pertumbuhan mata tunas umbi ini dapat diproduksi dengan cara penyemaian pada media sabut kelapa (cocopeat) dengan membelah umbi menjadi 3 bagian (pangkal, tengah, pucuk) dan dibelah lagi menjadi 4-6 bagian. Umbi dan bahan semai kemudian direndam dalam larutan fungisida Benomyl (5-10 menit) dan larutan ZPT Rooton F. Calon bibit yang sudah direndam kemudian dapat ditanam dalam area semai.
Pengolahan Tanah dan Pemupukan
Ubi kelapa dapat ditanam pada: 1) larikan; 2) lubang, dibuat dengan diameter 30-50 cm, kedalamannya 30-40 cm, serta jarak tanam antara 100-130 cm; dan 3) guludan, dengan jarak guludan 0,75-1 m dan jarak antar tanaman 1,7 m. Sebelum pertanaman, tanah dapat terlebih dahulu digemburkan dan lubang pertanaman diberi kompos atau pupuk kandang untuk hasil yang lebih maksimal. Pemupukan dilakukan dengan: 1) pupuk kandang (12-15 ton/ha); 2) pupuk buatan, disebar pada tanaman sedalam 5 cm pada usia tanam sekitar 3 bulan; 3) Urea, disebar dalam masing masing lubang dan tanaman dengan komposisi 112-135 kg/ha atau 30 g (2:2:3 NPK); 4) kombinasi pupuk organik dan NPK, untuk meningkatkan pertumbuhan empat bulan setelah tanam.
Pemeliharaan
Tidak ada pemeliharaan khusus pada ubi kelapa. Guna mendapatkan umbi yang besar, usahakan dengan membiarkan pertumbuhan pada satu tunas. Tanaman dapat dirambatkan pada tiang bambu atau pohon di dekat tempat tumbuhnya. Tanaman lamtoro menjadi inang belitan yang baik karena memiliki tajuk yang tidak terlalu tinggi dan mudah bergerak oleh angin. Tanah di sekitar pertanaman perlu dibumbun agar umbi tidak tersembul keluar, umbi yang keluar dari permukaan tanah dapat menyebabkan rasa pahit.
Penyakit yang perlu diwaspadai adalah antraknosa karena lebih sering menyerang jenis Dioscorea alata dibanding jenis umbi yang lain. Adapun hama yang sering menyerang adalah yam beetle (Heteroligus spp), hama dapat diatasi dengan insektisida atau dengan menanam umbi pada akhir musim.
Potensi dan Diversifikasi Pangan Ubi Kelapa
Dilihat dari kandungan gizi, ubi kelapa memiliki potensi menarik karena kandungan karbohidratnya tinggi dan memiliki protein yang lebih baik dibanding umbi tropis lainnya, terdapat pula kandungan serat, vitamin C, mineral, dan senyawa bioaktif pendukung fungsi kesehatan. Dalam sejumlah studi dan kajian, umbi ini juga memiliki kandungan indeks glikemik yang rendah sehingga berpotensi menjadi sumber karbohidrat bagi penderita diabetes atau masyarakat dengan pola makan sehat. Kandungan antioksidan dalam umbi juga mendukung kesehatan usus, dan menekan risiko gangguan kardiovaskular. Kandungan gizi yang tinggi ini membuat ubi kelapa layak disebut sebagai pangan fungsional, karena tidak hanya mengenyangkan tetapi juga memberi manfaat pada tubuh.
Keunggulan lain ubi kelapa juga terletak pada fleksibilitas pengolahannya. Umbi ini tidak hanya cocok dikonsumsi secara langsung, tetapi juga dapat diolah menjadi tepung. Bentuk tepung memberi banyak keuntungan karena lebih awet disimpan, mudah diangkut, dan fleksibel untuk diolah menjadi aneka produk pangan. Tepung uwi dapat dimanfaatkan untuk pembuatan mie, bihun, kue kering, cake, bolu kukus, muffin, flakes, bahkan bahan edible paper. Di Indonesia peluang pengembangan ini terbuka lebar untuk pangan modern berbasis bahan baku lokal. Dengan demikian, uwi memiliki nilai tambah tidak hanya di tingkat budidaya, tetapi juga pada industri pengolahan pangan, UMKM, hingga pengembangan produk sehat berbasis pangan lokal.
Ubi kelapa layak mendapatkan perhatian luas baik dari petani, peneliti, pelaku usaha, hingga masyarakat luas sebagai konsumen. Pengembangannya tidak hanya membangkitkan popularitas umbi lokal, tetapi juga turut membangun sistem ketahanan pangan yang lebih beragam, tangguh, mandiri, dan sehat. (AM’2026)
Sumber:
- Febriansyah, A. & Sari, K. (2022). Uwi, pangan lokal potensial sebagai pangan pokok. Buletin Teknologi dan Inovasi Pertanian.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/24584 - Diantina, S. & Hutami, S. (2014). Perbanyakan gembili (Dioscorea esculenta) dan ubi kelapa (Discorea alata) menggunakan bibit set mini. Jurnal penelitian tanaman pangan, 33(3). https://repository.pertanian.go.id/items/b60b7fd8-3ae6-40f3-b117-9ea8a39f9c26
- Hapsari. R.T. (2014). Prospek uwi sebagai pangan fungsional dan bahan diversifikasi pangan. Buletin palawija, 27(2014). https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/4188




