Siapa yang tidak suka cabai? Lewat rasanya yang pedas, cabai begitu digemari banyak orang dan dapat memperkaya cita rasa khas masakan Indonesia. Pada praktik budi daya cabai, pestisida seringkali masih menjadi andalan petani sebagai tameng pelindung tanaman agar panen melimpah. Namun, penggunaan pestisida yang kurang bijak dapat menyisakan residu pada produk tanaman yang pada kadar tertentu berbahaya bila dikonsumsi.
Cabai (Capsicum annum L.) adalah komoditas hortikultura sayur yang sangat populer di pasar lokal. Dalam kegiatan produksinya, seringkali cabai menghadapi kendala serangan hama dan penyakit hingga menyebabkan berkurangnya hasil bahkan gagal panen. Dalam mengatasi hal tersebut, pestisida kimia masih sering digunakan dalam membasmi hama penyakit. Di sisi lain, pestisida kimia adalah bahan yang perlu diwaspadai, pemakaiannya yang berlebihan dapat menjadi sumber pencemar pada bahan pangan, air, dan lingkungan sekitarnya. Residu yang ditinggalkan secara langsung dan tidak langsung akan berdampak pada manusia dan lingkungan.
Residu Pestisida pada Cabai Merah
Beberapa penelitian telah dilakukan terkait kandungan residu pestisida pada cabai merah di beberapa wilayah. Hasilnya, masih banyak ditemukan kandungan residu pestisida pada cabai merah yaitu dieldrin, heptaklor, endosulfan, klorpirifos, malation, dan profenofos. Residu-residu ini terkandung dalam kelompok pestisida organoklorin dan organofosfat. Terdapat tiga kelompok utama pestisida yang perlu diketahui, yaitu
- Organoklorin. Kelompok pestisida yang paling dominan ditemukan pada cabai merah. Mengandung residu dieldrin, chlklordan, aldrin, DDT, dan heptaklor. Pestisida ini terurai sangat lambat dan butuh waktu lama untuk menghilang.
- Organofosfat. Kelompok pestisida yang sangat beracun untuk manusia, namun juga lebih cepat terurai. Mengandung residu diazinon, malation, dimetoat, dan klorpirifos.
- Karbamat. Kelompok pestisida dengan tingkat racun yang rendah bagi manusia, namun tetap berpotensi memengaruhi kekebalan tubuh dan sistem saraf pusat. Mengandung residu karbaril, karbofuran, dan metomil.
Pestisida pada cabai tidak akan berbahaya jika kandungannya rendah dan penanganannya tepat. Kadar residu yang aman ditetapkan dengan batas maksimum residu (BMR) pestisida. Cabai dengan kandungan residu yang berada di bawah batas aman akan terjaga kualitas dan keamanan konsumsi pangannya. Batas maksimum residu pestisida ini diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 7313:2008.
Mengurangi Residu Pestisida
Residu racun dari pestisida dapat masuk dalam tubuh manusia melalui pangan yang dikonsumsi. Paparan residu yang berlebihan dan jangka panjang dapat memengaruhi saraf dan organ tubuh manusia hingga meningkatkan risiko penyakit tertentu. Pengurangan residu pestisida dapat dilakukan oleh petani pada masa prapanen dan masyarakat pada masa pascapanen.
Pengurangan pestisida pada masa prapanen
- Penggunaan APH dan sistem PHT
Dalam mengendalikan hama, petani diutamakan untuk mengikuti sistem pengendalian hama terpadu (PHT) . Pada sistem ini pengendalian hama dilakukan dengan menggunakan agen pengendali hayati (APH) yang dapat menggantikan peran pestisida kimia dalam memberantas hama tanaman. APH dapat berupa spesies, subspesies, varietas, serangga, cendawan (fungi), bakteri, virus, dan organisme lainnya yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama. - Penggunaan pestisida non-persisten
Tidak semua pestisida memiliki daya tahan yang sama. Terdapat pestisida yang sulit dan mudah terurai. Salah satu penyebab menumpuknya residu pestisida adalah penggunaan pestisida yang persisten, sulit terurai oleh lingkungan. Pestisida persisten dapat bertahan hingga puluhan tahun dan berdampak pada lingkungan dan tanaman. Berikut beberapa golongan pestisida persisten dan nonpersisten:- Insektisida. Jenis yang persisten, yaitu DDT, aldrin, dieldrin, klordan. Sementara yang nonpersisten, yaitu metoksiklor, sevin (karbaril), malation, dan lindan.
- Herbisida. Jenis yang bersifat persisten, yaitu simazin, turbacil, tordon, sedangkan yang nonpersisten, yaitu parakuat, dalapon, dan daktal.
- Fungisida. Jenis yang persisten, yaitu PMAS, caloclor, dan kadmium. Untuk jenis nonpersisten, yaitu benlat, manckozeb, dan zineb.
- Pengaturan waktu aplikasi pestisida
Faktor penyebab tingginya residu pada hasil pertanian salah satunya dipengaruhi oleh waktu pengaplikasian pestisida yang lebih dari satu kali. Penumpukan pestisida akan terjadi dan residunya akan membutuhkan tambahan waktu untuk menghilang. Selain itu, penyemprotan pestisida pada hasil pertanian yang mendekati waktu panen juga menjadi penyebab tingginya kadar residu, pestisida yang menempel akan semakin banyak dan belum sepenuhnya hilang ketika tanaman dipanen. Semakin lama waktu pengaplikasian maka akan semakin berkurang residu pada tanah dan tanaman. - Penggunaan arang aktif
Arang aktif dapat dibuat dari limbah pertanian, seperti sekam padi atau tempurung kelapa. Rongga arang aktif sangat disukai mikroba–bakteri tanah pendegradasi dan bakteri pengikat nitrogen–sebagai tempat tinggal. Populasi mikroba akan meningkat karena adanya nutrien C dan N. Residu pestisida yang terperangkap dalam rongga arang aktif akan terdegradasi oleh mikroba pendegradasi hingga akhirnya terurai.
Langkah dalam mengurangi residu pestisida produk pertanian pascapanen
- Pencucian hasil pertanian
Mencuci sayur dan buah adalah langkah sederhana yang efektif. Beberapa pestisida memiliki sifat yang sukar larut dalam air, pencucian dengan air biasa hanya mengurangi sedikit kadar residu pestisida. Oleh karena itu, metode pencucian dengan cairan yang tepat (air garam, cuka, larutan bikarbonat, deterjen khusus, dll.) dapat mengurangi jenis residu pestisida tertentu dengan kisaran 24,64%-100%. - Kupas dan potong bagian tertentu
Residu pestisida pada bagian terluar buah dan sayur dapat mencapai hingga 17 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bagian yang lain. Dalam beberapa jenis buah dan sayur, mengupas bagian terluar (kulit) dan memotong bagian yang tidak perlu (akar) juga efektif untuk mengurangi paparan pestisida.
Cabai telah menjadi komoditas wajib kuliner Indonesia. Pengawasan keamanan pangan cabai menjadi tanggung jawab bersama. Petani perlu bijak dan taat aturan dalam menggunakan pestisida, sementara masyarakat juga perlu cermat dalam mengolah bahan makanan. Melalui kolaborasi kepedulian keamanan pangan ini cabai tidak hanya terasa lezat, tapi juga terjaga nutrisi dan manfaatnya. (AM’2025)
Sumber:
- Miskiyah, & Munarso, J. (2009). Kontaminasi Pestisida pada Cabai Merah, Selada, dan Bawang Merah (Studi Kasus di Bandungan dan Brebes Jawa Tengah serta Cianjur Jawa Barat). Jurnal Hortikultura, 19(1). https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/972
- Fitriadi, B.R., & Putri, A.C. (2016). Metode-Metode Pengurangan Residu Pestisida pada Hasil Pertanian. Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan, 11(2):61. DOI:10.23955/rkl.v11i2.4950





