
Bogor, 13 Februari 2026 - Kegiatan perdana Temu Teknologi Pertanian (Tektokan) yang mempertemukan antara penulis buku Penerbit Pertanian Press dengan masyarakat di gelar di lokasi Kelompok Tani Dewasa Bogor (KTD) Bogor Tani Berdikari, Cimahpar, Bogor Utara, Kota Bogor.
Acara yang dikemas secara santai dan penuh keakraban ini melibatkan beberapa peserta seperti Kelompok Wanita Tani (KWT) Glowing Berseri, KWT Gunung Batu, Kelompok Tani Dewasa (KTD) Coblong, KTD Abimantra, Penyukuh Pertanian Lapangan (PPL) Pertanian Kota Bogor, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Cimahpar, KTD Bogor Tani Berdikari, Petani dan Penyuluh Kemeneterian Pertanian.
Ketua Kelompok Substansi penerbitan Eni Kustani, dalam kesempatan ini beliau memberikan sambutannya sekaligus membuka acara Tektokan secara resmi untuk dilaksanakan. Dalam sambutannya Eni menjelaskan secara eksplisit “kegiatan ini adalah acara perdana di tahun 2026 dari Penerbitan Pertanian Press di bawah naungan Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Petanian” tegas beliau. Ditambahkan kembali oleh Eni “Tektokan adalah kegiatan yang mempertemukan penulis di Penerbit Pertanian Press, petani, penyuluh dan masyarakat yang berkecimpung di dunia pertanian yang di fasilitasi oleh Pertanian Press dan pemerintah setempat dengan harapan apa yang menjadi inspirasi, ide dan gagasan penulis yang di tuangkan dalam bukunya tersampaikan dengan baik” tutup Eni.
Dalam pemaparan materi isi bukunya yang berjudul “Mengintip Kesuksesan Beternak Ayam KUB di Jawa Tengah” Syarifah Munawaraoh mengatakan” Jatuh cinta pandangan pertama pada kegiatan para pemuda yang mengelola peternakan di Semarang Raya, Salatiga, Kota Surakarta, Kabupaten Magelang dan beberapa kota lainnya di Provinsi Jawa Tengah dengan menerapkan sistem manajemen kelola yang sangat baik, tertata dan akuntabilitas dengan membentuk kelompok-kelompok tani sebagai simpul-simpul kekuatan dalam memasarkan hasil ternak mereka” tegas ibu yang sering di panggil Iif ini. Kemudian ditambahkan beliau kembali” hal yang paling menginspirasi adalah bagaimana mereka mampu membuat pakan ayam sendiri tanpa harus ketergantungan dengan pakan yang di jual di pasar, mereka menyadari betul bahwa hampir 65% sumber pengeluaran dalam mengelola ternak ayam ada pada pembelian pakannya” tutup Iif.
Menyiasati besarnya pengeluaran biaya untuk pakan ini kelompok pemuda tani di Jawa Tengah mengumpulkan limbah-limbah parutan kelapa di pasar, limbah sayuran, limbah pabrik tahu dan tempe dan beberaplimbah lainnya yang bisa dikelolah sendiri untuk menjadi pakan ternak yang ternyata lebih sehat, higienis dan terjangkau. Beberapa alasan disampaikan IIf mengapa peternak sebaiknya mengembangkan ayam KUB (ayam kampung asli dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertania Tahun 2014) diantaranya adalah karena ayam KUB sudah dapat bertelur pada minggu ke 20-22 sedangkan ayam kampung biasa di pekan ke 20-24, jadi ayam KUB lebih cepat usia bertelurnya, kemudian Ayam KUB satu ekornya mampu menetaskan 180-200 telur dalam setahun sedangkan ayam kampung biasa hanya 50-100 butir/tahunnya, selanjutnya daya tetasnya mencapai 85% dan pada ayam kampung 79-84%, Bobot telur/butir(g) 36-45 sedangkan ayam kampung 39-43 g, dan yang terakhir tingkat kematian ayam KUB lebih kecil dari 5% sedangkan ayam kampung sekitar 27%. Jadi mengelola ayam KUB lebih untung dan aman.
Melalui kegiatan Tektotan ini, petani dan penyuluh mendapatkan kesempatan berdiskusi langsung dengan penulis buku untk menggali strategi cerdas dalam meningkatkan pendapatan, efisiensi operasional, serta keberlanjutan usaha ternak ayam KUB. (Kontributor Pertanian Press)
