
Bogor, 15 Februari 2026 - Di tengah tantangan pelayanan publik yang semakin dinamis, komunikasi yang bijak menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter pegawai yang profesional dan berintegritas. Berangkat dari semangat tersebut, Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian menggelar Bimbingan Teknis Pembentukan Karakter Pegawai dengan mengusung literasi komunikasi bijak sebagai kunci membangun komitmen, kompetensi, dan etika dalam setiap pelayanan kepada masyarakat.
Kepala Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro, menegaskan bahwa perubahan kinerja dan karakter harus dimulai dari kesadaran diri setiap pegawai. “Kita tidak bisa berharap hasil yang luar biasa jika bekerja dengan cara yang biasa-biasa saja. Kalau ingin perubahan, maka kita sendiri yang harus bergerak dan meningkatkan kapasitas diri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan kompetensi bukan sekadar formalitas, tetapi komitmen untuk terus memperbaiki diri. “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Artinya, perbaikan itu dimulai dari kita, dari cara berpikir, cara bekerja, hingga cara melayani. Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat karakter, meningkatkan kualitas amal dan kinerja, serta saling memaafkan agar kita bisa melangkah lebih baik ke depan,” tambahnya.
Sementara itu, dosen ilmu komunikasi Universitas Bhayangkara Dina Kristina menegaskan bahwa komunikasi yang bijak bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan fondasi moral dalam membangun karakter dan pelayanan publik yang profesional. “Semua orang bisa berkomunikasi, tetapi tidak semua orang memiliki kompetensi komunikasi. Komunikasi bijak itu tentang kepatutan, bagaimana kita memilih, memilah, dan memfilter kata serta sikap dengan mempertimbangkan dampaknya. Berbicara baik atau buruk adalah pilihan, tetapi berbicara bijak terhadap sesama adalah kewajiban,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesadaran diri dan pengendalian emosi dalam interaksi sehari-hari. “Pembentukan karakter dimulai dari komunikasi dengan diri sendiri. Ketika kita mampu mengelola pikiran, perasaan, dan respons, maka kita bisa memposisikan dan memantaskan diri dalam situasi apa pun. Dalam pelayanan publik, ketenangan, ketegasan yang asertif, ketelitian, serta keramahan adalah kunci agar komunikasi tidak hanya tersampaikan, tetapi juga membangun kepercayaan,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pegawai tidak hanya meningkatkan kapasitas teknis, tetapi juga membangun kesadaran diri, pengendalian emosi, serta kemampuan berkomunikasi yang humanis dan profesional. Literasi komunikasi bijak menjadi landasan untuk menciptakan lingkungan kerja yang harmonis, terbuka, dan produktif, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi. (Rep FN)
