
Perpustakaan tak lagi sekadar sunyi dan dipenuhi rak buku. Di Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka), perpustakaan justru menjelma menjadi ruang diskusi hangat yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kebutuhan nyata masyarakat.
Hal itu tampak dalam kegiatan Inklusi Sosial yang melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT) serta para kader Kelurahan Tanah Sareal, yang digelar pada 4 Januari 2026 di lantai 3 Gedung P3D. Sejak awal kegiatan, suasana akrab dan penuh interaksi terasa, menandai semangat belajar bersama yang tumbuh secara alami.
Acara diawali dengan pembukaan oleh MC, dilanjutkan sambutan sekaligus pengenalan singkat profil perpustakaan oleh Ketua Tim Kerja Layanan BB Pustaka. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa perpustakaan kini berperan lebih luas sebagai ruang inklusif untuk berbagi pengetahuan praktis, khususnya di bidang pertanian.
“Perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang belajar bersama, berdiskusi, dan bertukar pengalaman yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.
Semangat tersebut sejalan dengan sambutan Lurah Tanah Sareal, yang mengajak seluruh peserta memanfaatkan momen kebersamaan untuk kegiatan yang lebih produktif dan bermakna. Ia menekankan pentingnya diskusi dan literasi sebagai jalan untuk memahami persoalan pertanian secara lebih kritis.
“Selama ini kita sering mendengar istilah booster pada tanaman buah. Tapi apa sebenarnya booster itu? Apakah selalu berbahan kimia atau bisa berasal dari bahan alami? Semua itu bisa kita cari tahu melalui ilmu, bacaan, dan diskusi di tempat yang nyaman seperti ini,” ujarnya, disambut antusias para peserta.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan pemaparan materi oleh Atep selaku penyuluh pertanian. Dalam kesempatan tersebut, Atep membagikan berbagai tips praktis dalam merawat tanaman, salah satunya terkait teknik memindahkan tanaman. Ia menekankan bahwa batang tanaman yang masih muda sebaiknya tidak disentuh secara langsung, karena dapat menimbulkan memar dan menghambat pertumbuhan tanaman.
Diskusi pun berkembang secara aktif, dengan peserta saling berbagi pengalaman sekaligus menggali informasi dari sumber bacaan yang tersedia di perpustakaan. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa perpustakaan mampu hadir sebagai ruang belajar yang relevan, inklusif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan library tour singkat, di mana peserta diajak mengenal berbagai layanan yang tersedia di BB Pustaka. Setelah itu, rombongan turun ke lantai 1 untuk melanjutkan praktik langsung bercocok tanam. Dalam sesi praktik, ibu-ibu KWT memindahkan bibit tanaman yang dibawa oleh penyuluh ke dalam polibag, sebagai bentuk penerapan langsung dari materi yang telah dibahas.
Melalui kegiatan ini, BB Pustaka tidak hanya berperan sebagai pusat informasi, tetapi juga menjadi ruang inklusif yang mendorong masyarakat belajar, berdiskusi, dan mempraktikkan ilmu secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. (Rep TR/Edit SO)
