
Upaya percepatan swasembada pangan menjadi fokus utama berbagai pemangku kepentingan yang hadir dalam talkshow bertema Literasi Pertanian Mendukung Swasembada Pangan pada 19 November 2025 yang digelar oleh Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian.
Para narasumber dari kalangan akademisi, kementerian, hingga TNI sepakat bahwa literasi pertanian merupakan fondasi penting dalam menghadapi tantangan pangan nasional dan global.
Guru Besar IPB, Prof. Desrial, menegaskan bahwa inovasi tidak dapat dilepaskan dari kemampuan memahami masalah di lapangan. Ia mencontohkan perjalanan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang sejak awal karier sebagai penyuluh mampu melahirkan berbagai inovasi, termasuk produk pengendali tikus “Tiran”.
Menurutnya, inovasi menjadi kunci menghadapi krisis pangan dunia yang kini melanda 58 negara dan menyebabkan 725 juta penduduk kekurangan gizi. "Indonesia pun menghadapi tantangan domestik seperti stunting 7–16 persen, kelangkaan beras awal 2024, meningkatnya impor beras hingga 4,5 juta ton, serta menurunnya produksi beras sejak 2019." Ungkapnya
Merespons kondisi tersebut, Kementerian Pertanian menyusun Blueprint Pertanian 2024–2029 yang memuat sejumlah program strategis, antara lain pompanisasi sawah tadah hujan satu juta hektare, optimasi lahan, cetak sawah tiga juta hektare, revitalisasi irigasi, transformasi pertanian modern, pelibatan petani milenial, pembentukan Brigade Pangan, dan hilirisasi komoditas bernilai tinggi.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Sri Yanti Wibisana, memaparkan bahwa transformasi pertanian menjadi bagian dari RPJMN 2025–2029 untuk menghadapi triple planetary crisis yaitu perubahan iklim, degradasi tanah dan air, serta hilangnya keanekaragaman hayati. Data Bappenas menunjukkan 89,54 persen lahan pertanian Indonesia berada dalam status tidak berkelanjutan, sementara mayoritas petani masih berasal dari generasi X yang cenderung lambat mengadopsi teknologi.
Untuk itu, Bappenas mendorong penggunaan inovasi digital dan pengolahan data pertanian, percepatan regenerasi petani melalui pendidikan vokasi, serta penguatan link and match antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Peningkatan literasi pertanian disebut menjadi kunci percepatan adopsi teknologi dan peningkatan kemampuan petani dalam menghadapi perubahan iklim.
Dukungan infrastruktur pertanian juga disampaikan Direktur Jenderal Sumber Daya Air KemenPU, Yosiandi Radi Wicaksono. Ia menjelaskan bahwa sepertiga lahan sawah nasional belum mendapatkan pasokan air secara stabil. Untuk mengatasi hal tersebut, KemenPU mengembangkan pompanisasi berbasis solar panel, membangun 1.000 sumur bor dalam enam bulan terakhir, memperbaiki jaringan irigasi daerah, serta mendukung cetak sawah di luar wilayah irigasi utama.
Sementara itu, Pati Mabes AD Brigjen TNI Ito Hediarto menegaskan kesiapan TNI untuk mendukung program swasembada pangan melalui pendampingan intensif di lapangan. TNI mengerahkan perwira tinggi sebagai tenaga ahli Kementan, membentuk Brigade Pangan, serta memobilisasi 50 batalyon infanteri teritorial di seluruh Indonesia. Berbagai kegiatan pendampingan telah dilakukan, termasuk pompanisasi, peningkatan luas tanam, serap gabah, operasi pasar, dan dukungan terhadap program gizi nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kolaborasi antarlembaga tersebut menegaskan bahwa literasi pertanian tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pengetahuan, tetapi juga menjadi penggerak utama inovasi, perencanaan pembangunan, dan penguatan kapasitas petani. Dengan sinergi yang kuat, para pemangku kepentingan optimistis bahwa target swasembada pangan nasional dapat dicapai lebih cepat. (Rep FN/Edit SO)
