
BOGOR - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) kembali memperkuat literasi pertanian dalam menghadapi perubahan iklim melalui kegiatan Temu Teknologi Pertanian (Tektokan) bertajuk "Budi Daya Cabai di Dataran Tinggi : Standar Operasional Prosedur (SOP)", Rabu (13/05/2026).
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah terus mendorong berbagai strategi adaptasi agar produktivitas komoditas pertanian tetap terjaga.
“Pemerintah terus memperkuat langkah mitigasi untuk melindungi komoditas pertanian dari dampak perubahan iklim melalui penerapan budi daya adaptif, penggunaan benih unggul, serta pendampingan kepada petani agar produktivitas tetap terjaga,” ujar Mentan Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan regenerasi petani sangat penting.
“Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan," ujar Santi.
Temu Teknologi Pertanian (Tektokan)
Mewakili Kepala BB Pustaka, Ketua Kelompok Penerbitan Pertanian, Eni Kustanti mengungkapkan, BB Pustaka saat ini menaungi Pertanian Press yang menjadi unit kerja penerbit publikasi pertanian, melalui kegiatan tektokan ini para petani diajak berdiskusi terkait permasalahan yang dihadapinya dengan mencari solusi dari buku hyang diterbitkan oleh pertanian Press
Cabai Komoditas Strategis
Perwakilan dari Direktorat Jenderal Hortikultura, Mutiara mengungkapkan, cabai merupakan komoditas strategis nasional dengan kebutuhan pasar yang tinggi dan berpengaruh terhadap inflasi maupun perekonomian nasional.
Menurutnya potensi produktivitas cabai di dataran tinggi dinilai sangat besar apabila didukung penanganan yang tepat mulai dari pemilihan varietas, pengaturan guludan, pemupukan, pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), hingga pengelolaan panen dan pascapanen.
"Namun demikian, budi daya cabai juga menghadapi tantangan besar akibat perubahan iklim serta tingginya serangan OPT. Karena itu, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya cabai menjadi pedoman penting agar usaha tani berjalan efektif, efisien, dan berkelanjutan," ungkapnya
Mutiara menambahkan, Kementerian Pertanian mendukung pengembangan kawasan aneka cabai Tahun Anggaran 2026, Pemerintah menetapkan sejumlah kriteria penerima bantuan, di antaranya kelompok tani wajib terdaftar dalam SIMLUHTAN, bersedia memenuhi persyaratan administrasi, serta memiliki luasan tanam minimal satu hektare.
Hama dan Penyakit Cabai
Sementara itu perwakilan dari Badan Riset Nasional, Ifa Manzila menjelaskan sejumlah kesalahan yang sering dilakukan petani, seperti penggunaan varietas yang tidak sesuai lokasi tanam, pengendalian hama yang terlambat, penggunaan pupuk nitrogen berlebihan, drainase buruk, hingga penanaman cabai secara terus-menerus tanpa rotasi tanaman dapat menyebabkan tanaman mudah terserang hama dan penyakit serta menurunkan produktivitas.
Berbagai hama penting pada tanaman cabai juga menjadi perhatian, di antaranya thrips, kutu daun, kutu kebul, lalat buah, dan tungau. Sementara penyakit utama meliputi virus gemini, antraknosa, layu fusarium, hingga layu bakteri.
Strategi Pengendalian Cabai
Untuk mengatasi hal tersebut, diterapkan strategi pengendalian berdasarkan umur tanaman. Pada fase awal 0–30 HST misalnya, petani dianjurkan menggunakan mulsa plastik perak, memasang yellow sticky trap sejak tanam, melakukan monitoring rutin, serta memanfaatkan agen hayati seperti PGPR dan Trichoderma.
Memasuki fase vegetatif hingga produksi, pengendalian dilakukan melalui pemupukan berimbang, sanitasi kebun, rotasi bahan aktif pestisida, pemasangan pheromone trap, penggunaan biopestisida, dan panen rutin untuk mengurangi kelembaban kanopi tanaman.(Kontributor Jo/Edit SO)
