
Kalimantan Selatan, 24 September 2025 – Pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi kunci dalam memperkuat kinerja Brigade Pangan (BP) sekaligus mendorong terwujudnya pertanian modern di Indonesia. Hal ini diulik lebih lanjut dalam kegiatan Live of Agriculture Virtual Literacy (LOVE) ke-15 yang digelar pada Rabu (24/9/2025) di Kalimantan Selatan dengan tema “Pemanfaatan Alsintan Mendukung Kinerja Brigade Pangan.”
Acara ini dibuka oleh Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro. Dalam sambutannya Eko menjelaskan bahwa tercapainya terwujudnya swasembada pangan adalah hasil dari peran pemanfaatan teknologi Alsintan yang telah diberikan kepada masyarakat petani ada saat ini. “Pemerintah terus memberikan dukungan untuk modernisasi pertanian, dahulu kita mengenal mekanik sapi, sekarang kita mengenal mekanisasi” jelasnya.
Kepala BBPP Binuang, Atekan, turut memberikan sambutan, ia juga mengungkapkan bahwa topik acara ini sejalan dengan program Kementerian Pertanian dalam mendorong modernisasi pertanian. “Diharapkan dengan adanya alat mesin pertanian ini menjadi salah satu transformer ya, agen perubahan dari pertanian tradisional ke pertanian modern. Kalau dari beberapa hasil kajian penggunaan alat mesin pertanian ini ternyata bisa mengefisienkan beberapa sisi pekerjaan.” ungkapnya
Mardison dari Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia memberikan materi terkait Pemanfaatan Alat Mesin Pertanian. Dalam penyampaiannya Mardison menjelaskan bahwa mekanisasi membawa banyak manfaat, mulai dari produktivitas baik, percepatan waktu kerja, efisiensi biaya dan tenaga, hingga panen yang lebih seragam. Meski demikian, ia menyoroti tantangan implementasi berupa akses alat dan pembiayaan, keterampilan operator, dan skala lahan petani yang kecil. “Lakukan identifikasi lahan dengan baik, lakukan identifikasi alsin eksisting, ajukan kebutuhan kurangnya sesuai kebutuhan. Kemudian solusi lainnya adalah subsidi dan bantuan dari pemerintah dan pelatihan operator alat mesin yang masif, kemudian kemitraan dengan koperasi dan swasta,” jelasnya.
Kalimantan Selatan adalah daerah dengan perkembangan Brigade Pangan yang cukup pesat. Tercatat ada 208 BP yang tersebar di delapan kabupaten, dengan Barito Kuala dan Tanah Laut sebagai daerah terbanyak, masing-masing 91 dan 83 BP. Keberadaan Brigade Pangan menjadi motor penggerak ketersediaan, perawatan, dan pendampingan penggunaan alsintan bagi petani.
Aman Nurrahman Kahfi, Liaison Officer Brigade Pangan, menjelaskan mengenai mekanisme distribusi alsintan. “Distribusi alsintan untuk Brigade Pangan adalah kewenangan bidang PSP (Prasarana dan Sarana Pertanian) di kabupaten, mereka mempunyai indikator dan parameter mana saja BP yang didahulukan untuk mendapatkan Alsintan. Setelah BP terbentuk dan legalitasnya terpenuhi, teman-teman brigade pangan dapat membuat proposal alsintan yang diperlukan sesuai dengan kondisi lapangan masing-masing. Hal ini kemudian kita bantu usulkan kepada PSP.,” ujarnya.
Dampak positif mekanisasi dirasakan langsung oleh Rachmat Effendi, Manager BP Mitra Tani di Barito Kuala. Rachmat menyebut pekerjaan olah tanah yang sebelumnya memakan waktu hampir dua bulan kini dapat dipangkas signifikan, BP Mitra Tani juga berhasil menunjukkan manfaat nyata dari pemanfaatan alsintan terlihat dari omset yang didapatkan. “Alhamdulillah sejak terbentuknya brigade pangan pada akhir 2024, kami sudah mendapatkan combine harvester, TR 4, dan lain-lain. Sejak itu hingga MT 1, alhamdulillah omset kami telah mencapai 1,4 milyar.” ungkapnya
Dengan dukungan alsintan, Brigade Pangan optimis mampu menjadi garda terdepan dalam mendukung swasembada pangan nasional. Mekanisasi adalah kunci percepatan tanam nasional dan alsintan menjadi andalan untuk memperkuat kinerja Brigade Pangan.” (Kontributor: AM/edit SO-SWT)
