
Bogor, 23 Februari 2026 - Kualitas penyuluhan pertanian semakin ditentukan oleh kecakapan penyuluh dalam mengelola informasi, seiring meningkatnya kebutuhan petani terhadap informasi yang akurat, cepat, dan mudah dipahami di tengah arus informasi digital yang kian masif. Penyuluhan tidak sekadar menyampai pesan, perlu akurasi, relevansi, dan inklusifitas dalam pelaksanaannya. Literasi pertanian menjadi tuntutan, kemampuan memilah, mengemas, dan menyebarkan informasi pertanian yang akurat akan menentukan efektivitas penyuluhan terutama di tingkat tapak.
Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) berperan sebagai simpul literasi pertanian menguatkannya melalui kegiatan layanan literasi, tema yang diangkat sesuai kebutuhan kali ini adalah “Kemas Ulang Informasi Pertanian”. Kegiatan dilakukan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Wilayah VIII Ciawi, Kabupaten Bogor untuk membantu penyuluh dalam mengelola dan menyajikan informasi pertanian secara efektif dan relevan.
Peserta kegiatan terdiri atas penyuluh pertanian lapangan, penyuluh pertanian swadaya, serta Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) setempat, kegiatan dibuka oleh Koordinator BPP Wilayah VIII, Agus Prasojo, S.P. dengan memberi pengantar dan menjelaskan daerah binaan penyuluh yang mencapai hingga 35 desa. Peran penyuluh begitu penting sebagai penyampai informasi pertanian di tengah dinamika dan perubahan pola dan media komunikasi masyarakat.
Dalam kegiatan ini, peserta diajak memahami berbagai sumber informasi pertanian yang relevan dan tepercaya. Peserta dapat memanfaatkan informasi pertanian yang disediakan oleh BB Pustaka melalui repositori pertanian serta segmen Info Literasi dan Info Perpustakaan yang tersedia di website resmi BB Pustaka. Strategi pencarian informasi pertanian yang tepat melalui internet turut dibekali dengan memperkenalkan teknik pencarian lanjutan menggunakan sintaks tertentu, seperti pencarian berbasis judul, alamat situs, domain, dan ekstensi file, hal ini dilakukan guna memperoleh hasil pencarian yang lebih spesifik dan akurat.
Setelah memahami sumber dan kebutuhan informasi, peserta diajak mengemas informasi pertanian menjadi produk visual. Pengemasan informasi dilakukan menggunakan aplikasi desain Canva yang mudah diakses melalui komputer maupun telepon genggam. Meski sebagian peserta hanya berbekal gawai, antusiasme tetap terlihat selama sesi praktik berlangsung.
Dalam testimoninya, Dewi dan Tirya, penyuluh pertanian lapangan, mengaku kegiatan ini bermanfaat untuk mengasah kemampuan penyuluh dalam proses penyuluhan, terutama dalam menyampaikan informasi pertanian secara lebih menarik, praktis, dan efektif.
BB Pustaka sebagai perpustakaan pertanian berperan sebagai perpanjangan tangan penyebaran informasi pertanian kepada berbagai pemangku kepentingan. Sinergi antara Balai Besar Pustaka dan penyuluh di lapangan menjadi bagian dari kerja nyata mendukung swasembada pangan melalui penguatan edukasi dan informasi. (Kontributor: AM)
