
Bogor, 29 Januari 2026 — Limbah tongkol jagung yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata menyimpan potensi ekonomi besar. Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian mengupasnya dalam kegiatan Bincang Cerdas Literasi (BCL).
Kepala Balai Besar BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro, mengungkapkan bahwa tongkol jagung dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai jual dan menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat pada kegiatan Bincang Cerdas Literasi (BCL).
Eko menyampaikan, pemanfaatan limbah pertanian ini sangat relevan bagi masyarakat yang memiliki lahan kosong. Lahan tersebut dapat dikerjasamakan, termasuk dengan pihak Polri, untuk ditanami jagung guna meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
“Banyak limbah di wilayah kita yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Kegiatan ini diharapkan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dengan materi pengolahan limbah pertanian yang aplikatif. Salah satunya Resa Setia Adiandri, narasumber dari BRMP Pasca Panen, yang menyoroti persoalan utama pengelolaan tongkol jagung di Indonesia.
Menurut Resa, tongkol jagung hingga kini masih dianggap sebagai sampah karena minimnya pengetahuan dan teknologi pengolahan. Selain itu, pemanfaatannya belum terintegrasi dengan sistem usaha UMKM, serta akses pasar produk olahannya masih terbatas.
Ia menjelaskan, tongkol jagung memiliki karakteristik unggul karena mengandung lignoselulosa tinggi, terdiri dari selulosa sebesar 38,3–44 persen, hemiselulosa 33–36,4 persen, dan lignin 13–18 persen. Kandungan ini menjadikan tongkol jagung cocok sebagai bahan energi, bahan pengisi, hingga material alternatif ramah lingkungan.
“Ketersediaannya juga sangat melimpah. Produksi jagung dunia mencapai lebih dari 1 miliar metrik ton per tahun, termasuk batang, tongkol, daun, dan kelobot. Di Indonesia sendiri, produksi jagung dalam enam tahun terakhir terus meningkat meskipun fluktuatif,” jelasnya.
Berbagai produk bernilai jual dapat dihasilkan dari tongkol jagung, antara lain tepung tongkol jagung, kompos, biobriket, kemasan ramah lingkungan, bioetanol, arang, hingga media tanam.
Sementara itu, Harmoko, Penyuluh Pertanian Muda Kabupaten Grobogan, memaparkan potensi daerahnya sebagai sentra jagung terbesar di Provinsi Jawa Tengah bahkan tingkat nasional. Grobogan memiliki luas tanam jagung mencapai 145.544 hektare dengan produksi sekitar 931.681 ton per tahun.
“Hasil panen jagung per hektare mencapai 6–9 ton, dan sekitar 1,8–2,7 ton di antaranya merupakan limbah. Artinya, sekitar 20–30 persen dari setiap 100 kilogram jagung adalah limbah,” kata Harmoko.
Ia menambahkan, limbah tanaman jagung umumnya berupa jerami, tongkol, dan klobot atau kulit jagung. Selama ini, setelah proses pemipilan menggunakan mesin, tongkol jagung sering dibiarkan, dibakar, atau hanya sebagian kecil dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Padahal, lanjut Harmoko, tongkol jagung dapat dimanfaatkan sebagai media tanam jamur merang (Volvariella volvacea) yang layak dikonsumsi dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Pemanfaatan ini dinilai mampu menambah pendapatan petani sekaligus mengurangi limbah pertanian.
“Jika limbah tongkol jagung dimanfaatkan sebagai media tanam jamur, maka petani tidak hanya panen jagung, tetapi juga mendapatkan sumber penghasilan tambahan,” pungkasnya.
