
Indonesia sedang berada pada momentum emas pangan nasional. Sepanjang tahun 2025, produksi beras nasional melonjak hingga 34,71 juta ton, naik signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan produksi ini berdampak langsung pada melimpahnya stok beras nasional, dengan cadangan beras pemerintah mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah. Tanpa impor beras konsumsi, Indonesia bahkan mencatat surplus jutaan ton, menandai langkah nyata menuju kedaulatan pangan sejati yang ditopang oleh kerja keras petani dan kebijakan pangan yang berpihak pada produksi dalam negeri.
Dari Karawang, Sawah Menyemai Harapan Swasembada
Pagi baru saja merekah di Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang Jawa Barat pada Rabu 7 Januari 2026. Kabut tipis menggantung di atas hamparan sawah, sementara para petani mulai menapaki jalan dengan langkah pasti. Di tempat inilah harapan swasembada akan berikrar disaksikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Ribuan petani memadati areal persawahan di Kecamatan Cilebar. Bagi sebagian dari mereka, pertanian bukan sekadar mata pencaharian, melainkan cara hidup yang diwariskan lintas generasi. Mahmud petani milenial asal kampung sawah, kabupaten Karawang mengungkap bahwa kesejahteraan bertumbuh dari tanah yang dirawat dengan kesabaran. Para petani meyakini, alam akan memberi hasil terbaik bila diperlakukan dengan bijak.
Karena itu, ketika pupuk kimia tak lagi bersahabat, mereka memilih kembali ke pupuk organik. Lahan diolah dengan campuran bahan alami, pupuk organik yang diperkaya asam amino dan asam humat digunakan untuk menetralkan pH tanah. Selanjutnya tambahan air beras, air kelapa, serta sisa buah-buahan difermentasi bersama gula merah, diputar dua hari sekali, lalu dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.
Petani dan Kearifan yang Terjaga
Pembibitan menjadi titik awal yang tak bisa ditawar. Benih harus benar-benar baik agar hasil panen maksimal. Dengan pengelolaan yang disiplin, petani harus mampu memanen padi minimal dua kali dalam setahun. Penyiraman dan pemupukan dilakukan teratur, mengikuti anjuran teknis yang diperoleh dari penyuluh pertanian.
Tantangan tetap datang silih berganti. Hama penggerek batang atau sundep menjadi ancaman paling sulit dikendalikan, disusul tikus dan hama musiman lainnya. Pengendalian dilakukan sesuai musim, termasuk pemanfaatan belerang pada media tanam. Bagi petani, gotong royong menjadi penopang utama. Para kelompok tani saling membahu, menyadari bahwa sawah adalah ruang hidup bersama. Doa menjadi ikhtiar yang tak terpisahkan dari kerja di ladang.
Penyuluh di Tengah Sawah
Di balik ketekunan petani, ada peran penyuluh yang nyaris tak terlihat namun menentukan. Ahmad Husnaedi, penyuluh dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Duku Puntang, Kabupaten Cirebon, rutin turun ke sawah untuk menyampaikan teknologi dan informasi terbaru sesuai arahan Kementerian Pertanian. Informasi itu menjadi pegangan petani dalam mengambil keputusan budidaya.
Pendampingan juga dilakukan Didin Baharudin dari Bpp Cisusukan. Melalui sistem latihan dan kunjungan (LAKU), ia mendampingi petani mengisi LTKK, melakukan diseminasi teknologi, serta menyosialisasikan program swasembada dan ketahanan pangan nasional. Informasi disaring dari sumber resmi, repository Kementerian Pertanian, jurnal ilmiah, hingga kajian akademisi, disampaikan melalui kunjungan lapang, demonstrasi plot, temu tani, dan anjangsana.
Arah Kebijakan dari Pusat
Di tingkat nasional, Menteri Pertanian Amran Sulaiman berulang kali menegaskan bahwa petani adalah kekuatan utama bangsa. ada sekitar 90 juta petani Indonesia, menurutnya, menjadi fondasi ketahanan pangan. Kolaborasi lintas sektor, mulai dari petani, TNI, Polri, kejaksaan, hingga Bulog, dinilai mempercepat jalan menuju swasembada. Tidak hanya lintas sektor, pihak internal pegawai Kementerian Pertanian pun terlibat langsung dalam jalan panjang menuju swasembada, tak heran, ratusan anak harus kehilangan waktu dan kasih sayang dari orang tuanya karena orangtua mereka harus berkontribusi nyata dalam swasembada pangan. Tak ada tanggal merah tak ada hari libur tak ada perbedaan waktu pagi, siang dan malam.
Pemerintah juga mendorong pembongkaran regulasi yang dinilai menghambat swasembada. Mekanisasi pertanian menjadi salah satu tumpuan. Dengan alat mesin pertanian, efisiensi meningkat dan biaya produksi menurun. Pengolahan lahan yang sebelumnya membutuhkan banyak tenaga kini dapat dilakukan lebih cepat, bahkan mencakup puluhan hektare dalam satu hari kerja.
Dari Pengetahuan, Swasembada Pangan Terwujud
Capaian surplus beras tahun 2025 menegaskan bahwa kedaulatan pangan tidak hanya dibangun di sawah, tetapi juga di ruang-ruang pengetahuan. Perpustakaan, pusat literasi, dan sistem informasi pertanian menjadi fondasi tak terlihat yang menopang keberhasilan produksi pangan nasional. Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian hadir sebagai penjaga dan penggerak pengetahuan pertanian Indonesia. Melalui literasi yang inklusif dan berkelanjutan, BB Pustaka berkontribusi nyata dalam memperkuat pertanian nasional dan memastikan bahwa kedaulatan pangan Indonesia berdiri di atas dasar ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi.
Sawah yang Menyimpan Masa Depan
Negeri ini memperlihatkan bahwa swasembada pangan bukan sekadar agenda kebijakan, melainkan proses panjang yang dirawat dari desa. Ketekunan petani, pendampingan penyuluh, dan keberpihakan kebijakan bertemu di petak-petak sawah. Di lahan sawah ini, padi tak hanya ditanam untuk dipanen. Ia dirawat sebagai harapan, bahwa dari kerja sunyi para petani, ketahanan pangan negeri dapat terus dijaga. (Shinta-Ferdi)
