
Ancaman ledakan hama tikus yang berpotensi menurunkan produktivitas padi dan jagung mendapat perhatian serius dari Kementerian Pertanian (Kementan). Melalui Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, Kementan mengelar kegiatan Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Vol. 15, pada Jumat (22/5/2026)
MSPP Kali ini mengangkat tema “Pengendalian Hama Tikus pada Tanaman Padi dan Jagung" yang merupakan kolaborasi bersama dengan Bincang Cerdas Literasi (BCL). Kegiatan ini menjadi upaya memperkuat kewaspadaan dan pengetahuan petani dalam menghadapi serangan hama tikus di lapangan.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mendorong perguruan tinggi untuk semakin agresif mengembangkan riset yang aplikatif dan berorientasi bisnis. Dalam arahannya, Mentan menekankan bahwa dunia kampus, harus menjadi pusat lahirnya inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata di lapangan sekaligus menciptakan nilai ekonomi.
Masalah dunia Pupuk, racun tikus. Saya teliti, lumayan dapat membantu para petani,” ujar Mentan. Ia mencontohkan pengalamannya yang meneliti produk pengendalian hama hingga belasan tahun sebelum akhirnya berhasil dikomersialisasikan.
Seiring dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) menjadi langkah strategis dalam mendukung tercapainya swasembada pangan nasional. Menurutnya, sebagai komoditas pangan utama masyarakat, produksi padi perlu dijaga baik dari sisi kualitas maupun kuantitas agar tetap optimal.
Kepala Balai Perpustakaan dan Literasi Pertanian yang merupakan Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro menyampaikan hama tikus menjadi salah satu ancaman utama bagi tanaman pangan karena mampu menyerang tanpa dipengaruhi kondisi iklim dan cuaca. Menurutnya, strategi pengendalian perlu terus diperbarui agar produktivitas padi dan jagung tetap terjaga.
“Momentum ini menjadi kesempatan bagi para penyuluh untuk memperoleh informasi terbaru mengenai penanganan hama tikus dari para narasumber yang kompeten,” ujarnya.
Peneliti Ahli Muda, Rahmini, menjelaskan bahwa tikus merupakan masalah klasik sekaligus ancaman serius bagi tanaman pangan. Tikus sawah menjadi jenis yang paling dominan menyerang tanaman padi dan jagung karena memiliki mobilitas tinggi dari area sawah menuju lahan jagung untuk memakan bulir tanaman sehingga berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi petani.
Ia memaparkan, tikus memiliki kemampuan reproduksi yang sangat cepat. Dalam satu musim tanam, seekor tikus dapat melahirkan hingga tiga kali, terutama pada fase padi bunting, bermalai, hingga masak. Kondisi tersebut menyebabkan populasi tikus meningkat sangat cepat apabila tidak dilakukan pengendalian sejak dini.
Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai habitat tikus yang umumnya berada di pematang sawah, tanggul irigasi, maupun jalan sawah. Lubang tikus aktif biasanya ditandai dengan gundukan tanah baru yang masih lembut, mulut lubang berukuran sekitar 6–8 cm, serta adanya jejak tapak atau goresan kasar di sekitar area tersebut.
Rahmini menekankan pentingnya pengendalian hama terpadu (PHT) sebagai strategi utama menghadapi serangan tikus. Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain tanam serempak, panen serempak, sanitasi habitat, gropyokan massal, pemasangan trap barrier system, fumigasi, penggunaan rodentisida, hingga konservasi musuh alami.
“Pengendalian individu adalah usaha yang sia-sia. Koordinasi antarpetani dalam satu hamparan menjadi senjata paling efektif melawan tikus sawah,” jelasnya.
Sementara itu, POPT Ahli Madya, Suparni menyampaikan bahwa pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tikus harus dilakukan melalui tahapan pengamatan, analisis agroekosistem, pengambilan keputusan, hingga tindakan pengendalian yang tepat dan berkelanjutan.
Ia menegaskan pentingnya memahami biologi dan ekologi tikus, mulai dari jalur pergerakan, sumber populasi, perilaku makan, hingga tanda-tanda keberadaannya di lapangan. Menurutnya, pengelolaan hama tikus harus dilakukan secara dini, intensif, serempak, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi yang tepat.
Dalam kesempatan tersebut, Suparni juga memaparkan sejumlah program Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan tahun 2026, diantaranya gerakan pengendalian OPT serelia seluas 3.000 hektare di 20 provinsi, penerapan pengelolaan hama terpadu padi seluas 2.000 hektare di 25 provinsi, serta pembangunan rumah burung hantu (rubuha) di 12 provinsi.
Ia mencontohkan keberhasilan pemasangan rubuha pada kelompok tani di Bekasi sejak tahun 2020. Setelah dua tahun, rumah burung hantu tersebut berhasil dihuni dan berkembang biak sehingga membantu menekan populasi tikus secara alami dan berkelanjutan.
Sebanyak 6.500 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti edukasi pengendalian terpadu yang digelar secara daring melalui zoom dan youtube.
Dari kegiatan ini diharapkan para penyuluh dan petani dapat meningkatkan pemahaman serta menerapkan strategi pengendalian hama tikus secara lebih efektif demi menjaga produktivitas tanaman pangan nasional. (kontributor DM/Edit SO)
