
Bogor — Padi berkualitas tidak lahir secara instan. Mutu dan daya saing beras Indonesia harus dibangun sejak dari benih, melalui budidaya yang tepat, hingga proses panen dan pascapanen yang konsisten. Langkah ini menjadi kunci untuk menghasilkan padi yang tidak hanya produktif, tetapi juga bermutu, bernilai tambah, dan semakin berdaya saing.
Pesan tersebut mengemuka dalam Bincang Cerdas Literasi (BCL) bertema “Padi Sehat & Gabah Unggul Terstandar untuk Produk Berdaya Saing” pad 20 Agustus 2026 yang diselenggarakan Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB PUSTAKA). Kegiatan menghadirkan Wage Ratna Rohaeni dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Padi dan Angga Madi Utomo, Kepala Layanan Teknis SPK BSN Provinsi Sumatera Selatan, dengan moderator R.A. Bayuarti Wahyu Kusumaningrum.
Webinar mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Ratusan peserta mengikuti melalui Zoom dan kanal YouTube, hal ini menunjukkan besarnya perhatian terhadap isu mutu dan standardisasi produk pertanian, khususnya komoditas padi.
Webinar kali ini juga menjadi momentum tersendiri karena untuk pertama kalinya kegiatan BCL dibuka dan diberi sambutan oleh Plt. Kepala BB PUSTAKA, Inneke Kusumawaty. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya literasi pertanian yang tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi mampu mendorong masyarakat untuk menerapkannya menjadi inovasi bagi kemajuan pertanian Indonesia.
Kegiatan ini merupakan webinar ketiga hasil kerja sama BB PUSTAKA dengan Badan Standardisasi Nasional (BSN). Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas diseminasi informasi dan pengetahuan pertanian melalui sinergi layanan literasi BB PUSTAKA dan SNI Corner BSN, sekaligus memperkuat sinergi antara Kementerian Pertanian dan BSN dalam meningkatkan literasi mutu dan standardisasi di bidang pertanian.
Wage menjelaskan bahwa fondasi untuk menghasilkan padi sehat adalah benih yang sehat dan bermutu. Penggunaan benih dari sumber yang tidak jelas perlu diwaspadai karena berpotensi membawa patogen yang dapat mengganggu pertanaman. Petani juga perlu memperhatikan kesesuaian varietas dan kesehatan benih sebelum digunakan. Selain kesehatan tanaman, Wage menyoroti potensi padi biofortifikasi berkandungan zinc (Zn) tinggi sebagai salah satu inovasi yang dapat mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
Dari sisi standardisasi, Angga Madi Utomo menekankan bahwa mutu perlu dijaga secara konsisten dari hulu hingga hilir. Penerapan prinsip budidaya yang baik mencakup proses pertanaman, panen, penanganan pascapanen, sanitasi, hingga ketertelusuran. Pencatatan menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Penggunaan pupuk, pestisida, dosis dan waktu aplikasi, serta berbagai kegiatan budidaya perlu didokumentasikan agar proses produksi dapat ditelusuri dan kualitas produk lebih terjamin. Mutu gabah juga sangat dipengaruhi oleh penanganan setelah panen. Penanganan yang cepat dan tepat, termasuk proses pengeringan dan penggilingan, diperlukan untuk mempertahankan kualitas hasil hingga sampai ke konsumen.
Dalam sesi diskusi, Wage mengingatkan bahwa penerapan standar tidak perlu menunggu hingga menjadi kewajiban. Membiasakan penerapan standar sejak awal akan membuat prinsip budidaya, pencatatan, ketertelusuran, dan pengendalian mutu menjadi bagian dari proses produksi sehari-hari. Angga menegaskan bahwa rantai mutu harus dijaga sejak awal. Benih yang baik menjadi titik awal, standar yang tepat menjadi pedoman, sedangkan konsistensi dalam penerapannya menjadi kunci agar kualitas hasil pertanian tetap terjaga.
BCL kali ini pun menegaskan satu pesan utama: perjalanan menuju padi sehat dan gabah berkualitas dimulai jauh sebelum produk dipasarkan. Mutu dibangun sejak benih, dijaga selama budidaya, dan dipertahankan melalui penanganan panen serta pascapanen yang tepat.
Melalui kolaborasi BB PUSTAKA dan BSN, pengetahuan mengenai mutu dan standardisasi diharapkan semakin mudah dijangkau dan diterapkan oleh masyarakat pertanian. Sebab, standar bukan sekadar tentang memenuhi persyaratan, tetapi menjadi bagian dari upaya melindungi petani, membangun kepercayaan konsumen, serta mendorong produk pertanian Indonesia semakin berkualitas dan berdaya saing. (REP TR & IDR/Edit SO)
