
Judul : Urgensi Penyuluhan Pertanian Baru di Indonesia
Penulis : Enti Sirnawati
Penerbit : IAARD Press
Tahun Terbit : 2020
Jumlah Halaman : 95 halaman
Link Akses 1 : https://tanirepo.id/items/759dd162-4a06-4fee-b150-0193e2fdbc9b
Link Akses 2 : https://repository.pertanian.go.id/items/759dd162-4a06-4fee-b150-0193e2fdbc9b
Perkembangan teknologi dan informasi serta semakin beragamnya persoalan yang dihadapi petani, menuntut pendekatan penyuluhan pertanian yang lebih adaptif. Penyuluhan perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan petani, perkembangan pengetahuan, serta perubahan lingkungan usaha tani. Peran penyuluh juga perlu berkembang agar dapat membantu petani mengakses pengetahuan dan membangun kerja sama dengan berbagai pihak.
Buku bertajuk Urgensi Penyuluhan Pertanian Baru di Indonesia karya Enti Sirnawati ini terdiri dari lima bab yang membahas perlunya pembaharuan pendekatan penyuluhan pertanian melalui konsep Agricultural Innovation System (AIS) atau sistem inovasi pertanian. Pendekatan ini menempatkan inovasi sebagai hasil interaksi dan kerja sama berbagai pihak, bukan semata-mata proses penyampaian teknologi kepada petani. Dalam pendekatan ini, penyuluh berperan sebagai perantara inovasi yang menghubungkan petani dengan berbagai sumber pengetahuan, teknologi, dan kelembagaan pendukung.
Pembahasan diawali dengan perkembangan paradigma penyuluhan pertanian, dari pendekatan transfer teknologi menuju sistem inovasi yang lebih partisipatif. Selanjutnya, penulis menguraikan peran innovation intermediary atau perantara inovasi. Peran ini mencakup membantu mengidentifikasi kebutuhan petani, menghubungkan pihak-pihak yang memiliki pengetahuan dan sumber daya, serta memfasilitasi kerja sama untuk menghasilkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Pada bagian berikutnya, buku mengulas kondisi penyuluhan pertanian di Indonesia, termasuk persoalan sumber daya manusia, kapasitas penyuluh, serta kelembagaan dan organisasi penyuluhan. Berbagai kendala tersebut menjadi tantangan dalam penerapan pendekatan baru. Bab terakhir membahas prospek penerapan konsep intermediari inovasi mempertimbangkan karakteristik petani, hambatan struktural, dan perlunya dukungan kelembagaan serta kolaborasi antarpihak.
Buku ini memberikan sudut pandang bahwa pembaruan penyuluhan perlu memperkuat kemampuan penyuluh dalam memfasilitasi proses inovasi dan membangun jejaring. Meski demikian, penerapannya memerlukan penyesuaian dengan kondisi wilayah, kapasitas kelembagaan, dan kebutuhan petani. Pendekatan tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan penyuluhan yang lebih responsif dan kolaboratif.
Kelebihan utama buku ini adalah pembahasan yang runtut, mulai dari perkembangan paradigma penyuluhan, konsep perantara inovasi, kondisi penyuluhan di Indonesia, hingga prospek penerapannya. Buku ini memberikan landasan pemikiran untuk memahami pentingnya peran penyuluh sebagai penghubung berbagai pihak dalam proses inovasi. Meski demikian, uraian mengenai penerapan konsep tersebut belum sepenuhnya memberikan panduan operasional yang terperinci bagi penyuluh di lapangan, terutama terkait langkah-langkah membangun jejaring inovasi dan memfasilitasi kolaborasi antarpihak.
Buku ini menjadi rujukan yang bermanfaat bagi penyuluh pertanian, peneliti, akademisi, mahasiswa, serta pengambil kebijakan yang ingin memahami arah pembaruan penyuluhan pertanian di Indonesia. (DA’26)
