Pada musim kemarau, berkurangnya ketersediaan air menjadi tantangan bagi produksi pertanian. Untuk menjaga produktivitas lahan, diperlukan pengelolaan pengairan yang efisien sesuai kondisi setempat. Salah satu metode yang efektif adalah pengairan basah-kering, yaitu pengairan sawah secara berselang yang mampu menghemat penggunaan air sekaligus memenuhi kebutuhan tanaman.
Persediaan air tanah hingga debit air sungai berpotensi berkurang pada musim kemarau. Kondisi tersebut dapat memberikan dampak serius terhadap produktivitas lahan pertanian. Pengelolaan pengairan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lapangan sangat dibutuhkan untuk menjaga kestabilan pasokan air lahan pertanian dalam setiap musim. Salah satu di antaranya adalah dengan pengairan basah-kering. Pengelolaan pengairan sawah dilakukan secara berselang dengan pengukuran yang praktis dan hemat.
Pengairan basah-kering memiliki banyak istilah, diantaranya adalah alternate wetting and drying (AWD), sistem pengairan ini termasuk juga dalam sistem irigasi berselang atau intermittent. Berbeda dengan irigasi berselang biasa, pengairan basah-kering (AWD) ini adalah versi upgrade yang lebih naik kelas, pemberian air dilakukan dalam siklus, penggenangan, dan pengeringan yang terukur.
Pengelolaan air dengan sistem basah-kering memiliki keunggulan tersendiri, terutama pada musim kemarau. Hal ini dikarenakan pengelolaan air dalam sistem basah-kering dapat menghemat penggunaan air pada padi sawah hingga 20%. Lahan dengan pasokan air yang terbatas cocok menggunakan pengairan ini.
Manfaat Pengairan Basah-Kering
Pengaturan kondisi lahan dilakukan dengan mengontrol keadaan lahan dalam kondisi kering maupun tergenang secara bergantian, dengan begitu tidak hanya terjadi penghematan konsumsi air, tetapi juga memberikan manfaat pada tanaman dan lahan seperti membuat tanaman lebih tahan rebah, memberi kesempatan akar mendapatkan udara agar dapat berkembang lebih dalam, mengurangi emisi gas (metana, karbondioksida, nitrogen dioksida), meningkatkan temperatur tanah untuk mengaktifkan mikroorganisme, menghambat perkembangan hama, hingga menekan keracunan tanaman akibat kandungan besi dalam tanah.
Penerapan AWD dapat dilakukan pada lahan yang dimulai dari fase tanam hingga satu minggu sebelum tanaman berbunga. Sawah akan mulai diairi jika kedalaman permukaan air tanah telah mencapai lebih dari 15 cm dari permukaan tanah. Pemantauan muka air tanah dapat dilakukan menggunakan alat sederhana yang terbuat dari paralon berlubang yang dibenamkan dalam tanah.
Alat Pengontrol Air AWD
Alat pemantau dan pengukur permukaan air digunakan untuk mengontrol kondisi terkini permukaan air tanah. Pemasangan alat sebaiknya dilakukan pada lahan pertanian tertinggi dan tidak jauh dari pematang sawah. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengamatan.
Pembuatan alat pengontrol air AWD:
- Siapkan paralon dengan diameter 5 inchi.
- Potong paralon dengan panjang 35 cm.
- Area pada paralon dibagi menjadi area berlubang dan tidak berlubang. Area sepanjang 25 cm diberi lubang, dan 10 cm sisanya tidak, beri tanda/garis pembatas untuk kedua area.
- Pada area yang disediakan, buat lubang dengan diameter 5 mm dan jarak antarlubang adalah 2 cm x 2 cm. Pembuatan lubang dapat dibantu menggunakan alat bor.
- Pasang mistar pada kedua sisi paralon, pemasangan dimulai dari ujung paralon yang tidak berlubang. Mistar berfungsi untuk mengukur kedalaman dan ketinggian muka air.
Setelah memasang alat pengontrol diatas, permukaan air terus diperhatikan terutama pada saat pembungaan dan pemupukan. Ketika tanaman padi sudah memasuki fase pembungaan, ketinggian air perlu dipertahankan sekitar 3–5 cm dari permukaan tanah. Adapun saat pemupukan, kondisi air pada lahan sawah dibuat dalam kondisi macak-macak, yaitu digenangi sedikit air, sehingga tanah sekadar basah, becek, atau berlumpur tanpa genangan tinggi.
Penerapan AWD secara tepat diharapkan menjadi salah satu langkah nyata untuk menjaga ketahanan produksi padi, menghemat sumber daya air, dan mendukung pertanian yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim.(AM’2026)
Sumber:
- Pusat Penyuluhan Pertanian. (2022). Petunjuk teknis penerapan teknologi CSA. Pusat Penyuluhan Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/17491
- Badan Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. (2015). Pengairan padi sawah basah kering AWD (alternate wetting and drying) [Leaflet]. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/13092






