Musim kemarau bukan hanya soal kekurangan air, tetapi ini adalah masa hama utama berkembang biak dengan cepat. Penerapan teknik pengendalian hama yang tepat terbukti mampu menekan kehilangan hasil secara signifikan. Dengan strategi yang efektif, produktivitas dan kualitas hasil tetap terjaga.
Mengelola lahan padi saat musim kemarau menuntut efisiensi dalam pelindungan tanaman. Tanaman padi lebih rentan terhadap hama pada musim kemarau karena kekurangan air dan suhu tinggi. Akibatnya, serangan hama lebih cepat dan dapat menurunkan hasil panen. Untuk itu, mengenali hama utama dan cara pengendalian yang tepat merupakan langkah efektif tidak hanya melindungi tanaman dari serangan, tetapi juga menjaga kualitas dan menjamin produktivitas yang menguntungkan. Berikut beberapa hama utama padi di musim kemarau dan cara pengendaliannya:
Penggerek Batang Padi
Hama ini menyerang semua fase pertumbuhan padi. Serangan pada stadium vegetatif menyebabkan kematian anakan muda yang disebut sundep (deadhearts). Sementara, pada stadium generatif menyebabkan malai putih dan hampa yang disebut beluk (whiteheads) .
Cara Pengendalian (Daerah Endemik)
- Pengaturan pola tanam: dilakukan dengan tanam serentak, rotasi tanaman dengan tanaman bukan padi, dan pengaturan waktu tanam berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larva di tunggul padi.
- Pengendalian secara mekanik dan fisik: dengan mengumpulkan kelompok telur di persemaian dan di pertanaman, menggunakan light trap, serta penyabitan tanaman serendah mungkin pada saat panen (disingkal). Penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami cepat membusuk dan larva mati.
- Pengendalian hayati: dilakukan dengan pelepasan parasitoid telur Trichogramma japonicum dosis 20 pias/ha sejak awal tanam.Pengendalian secara kimiawi: penggunaan insektisida dilakukan jika ditemukan 1 ekor ngengat, dengan aplikasi sekitar empat hari setelah terdeteksi. Di persemaian, insektisida butiran diberikan sebelum tanam jika ada lahan sekitar yang akan atau sedang panen. Pada fase vegetatif digunakan insektisida butiran (±20 kg/ha), sedangkan fase generatif menggunakan insektisida cair. Bahan aktif yang dianjurkan, yaitu karbofuran (butiran) serta spinetoram, klorantraniliprol, dan dimehipo (cair). Aplikasi harus memperhatikan kondisi lahan (dikeringkan), waktu (pagi atau sore), serta ketepatan dosis dan volume air (sekitar 350–500 liter air/ha).
- Pengendalian preventif: dilakukan melalui monitoring rutin populasi hama menggunakan light trap.
Pada daerah serangan sporadik: penyemprotan insektisida dilakukan jika ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dengan aplikasi sekitar empathari setelah terdeteksi.
Wereng Batang Coklat
Menghisap cairan tanaman hingga kering seperti terbakar (hopperburn). Hama ini berkembang cepat, mudah beradaptasi (membentuk biotipe baru), serta menularkan virus, seperti kerdil hampa (VKH) dan kerdil rumput (VKRT-1 dan VKRT-2).
Pengendalian
- Tanam padi serentak: dalam areal luas untuk mencegah penumpukan populasi wereng coklat imigran.
- Penggunaan varietas tahan: Gunakan varietas tahan (VUB) sesuai biotipe, yaitu Inpari 13, 31, 33, 47.
- Perangkap lampu: Lampu dipasang setinggi 150–250 cm dan mampu menangkap wereng dalam jumlah besar. Jika wereng tertangkap, lakukan pengendalian dengan mengubur hasil tangkapan, mengeringkan lahan hingga retak, lalu segera aplikasikan insektisida yang direkomendasikan.
- Waktu pesemaian padi: ditentukan oleh kapan puncak wereng imigran yang tertangkap lampu perangkap.
- Tuntaskan pengendalian pada generasi 1: puncak populasi imigran dicatat sebagai generasi nol (G0), yang kemudian berkembang menjadi generasi berikutnya setiap 25–30 hari.
- Pengendalian yang efektif dilakukan pada fase awal, yaitu saat G0 dan G1. Gunakan insektisida yang masih efektif dengan bahan aktif. seperti triflumezoprim, pimetrozin, atau dinotefuran, serta hindari penggunaan satu jenis secara terus-menerus. Pengendalian harus diselesaikan paling lambat pada generasi ke-2 karena pada generasi ke-3 sudah sulit dikendalikan.
- Pengamatan wereng coklat di pertanaman: amati populasi seminggu sekali untuk menentukan ambang kendali.
- Penggunaan insektisida: jika populasi tinggi, dengan memperhatikan waktu aplikasi, dosis, dan kondisi lahan.
- Pengendalian double cover: tambahkan insektisida sistemik melalui akar jika semprotan kurang efektif.
Tikus
Serangan dimulai dari tengah petakan lalu meluas ke pinggir, sering menyisakan 1–2 baris padi di tepi.
Pengendalian
Strategi PHTT: dilakukan sejak awal musim tanam secara serempak, terkoordinasi, dan berkelanjutan dengan menerapkan kombinasi teknik pengendalian yang sesuai.
Pengendalian sesuai dengan stadia pertumbuhan padi:
- Bera pratanam: lakukan sanitasi habitat, gropyok atau fumigasi massal, penggunaan LTBS (linear trap barrier system), dan pemakaian rodentisida apabila populasi tikus tinggi.
- Pengolahan tanah: fokuskan untuk melakukan tindakan pengendalian dengan sanitasi habitat, gropyok massal, penggunaan TBS (trap barrier system) tanam awal dan LTBS. Pengumpanan rodentisida masih dapat dilakukan.
- Pesemaian: lakukan sanitasi habitat, gropyok massal, dan pemanfaatan pesemaian sebagai petak TBS dengan pemagaran plastik dan pemasangan bubu perangkap.
- Tanam dan panen serempak: selisih waktu tanam dalam satu hamparan usahakan tidak lebih dari dua minggu, agar pakan terbatas sehingga tikus tidak berkembang biak terus menerus.
Penerapan pengendalian hama utama padi di musim kemarau yang tepat dan konsisten merupakan langkah strategis yang mampu menekan serangan hama secara optimal, mencegah kehilangan hasil dan memastikan produktivitas serta kualitas panen padi meningkat. (WD 2026)
Sumber
- Suprihanto, dkk. (2024). Pengendalian hama dan penyakit utama tanaman padi. Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Padi. Pertanian Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26536 - Purnama, G., dkk. (2023). Teknik mengendalikan hama dan penyakit tanaman padi. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Pertanian Press
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/22258





