Kementerian Pertanian melaksanakan program pembangunan komoditas tebu untuk mencapai swasembada gula konsumsi. Produksi gula kristal putih (GKP) Indonesia dominan berasal dari kontribusi tebu rakyat mencapai lebih dari 50%, sedangkan sisanya merupakan kontribusi tebu milik BUMN dan perusahaan swasta. Perkembangan produksi tebu di Indonesia cukup fluktuatif., namun dalam budidayanya masih ditemukan kendala yaitu serangan hama. Serangan ini mengakibatkan produksi tebu kurang maksimal sehingga target kebutuhan pokok gula nasional tidak tercukupi
Serangan hama tanaman tebu menyebabkan kerusakan (injury) pada tanaman, penurunan kualitas dan kuantitas hasil (damage) yang pada akhirnya dapat menyebabkan kerugian (loss).
Beberapa hama penyakit yang menyerang tanaman tebu diantaranya :
- Penggerek Pucuk (Triporyza vinella F)
Penggerek pucuk menyerang tanaman tebu pada umur 2 minggu sampai umur tebang. Gejala serangan berupa lubang-lubang melintang pada helai daun yang sudah mengembang. Serangan penggerek pucuk pada tanaman yang belum beruas dapat menyebabkan kematian, sedangkan serangan pada tanaman yang beruas akan menyebabkan tumbuhnya siwilan sehinggga rendemen menurun. Daun yang terserang akan menggulung dan kering (mati puser). Setiap batang yang terserang biasanya dihuni oleh satu ekor penggerek.
Pengendalian dilakukan dengan memakai pestisida nabati dan agensia hayati atau dengan menebarkan insektisida sistemik, misalnya Carbofuran atau Petrofur di tanah dengan dosis 25 kg/ha. - Uret (Lepidieta stigma F)
Hama uret berupa larva kumbang terutama dari familia Melolonthidae dan Rutelidae. Uret menyerang perakaran dengan memakan akar, sehinga tanaman tebu menunjukkan gejala seperti kekeringan. Jenis uret yang menyerang tebu di Indonesia antara lain Leucopholis rorida, Psilophis sp. dan Pachnessa nicobarica. Uret merupakan hama polifag, menyukai tanah ringan berpasir dan pada stadia instar 3 paling rakus (3-4 ekor dapat menghabiskan perakaran 1 rumpun tebu). Tanda-tanda serangan tampak jelas ketika musim kemarau dan pada tanaman keprasan lebih menderita. Spesies Lepidiota stigma yang paling merusak perakaran tebu.
Pengendalian dilakukan secara mekanis dengan menangkap kumbang pada sore/malam hari dengan perangkap lampu. Pengendalian juga dapat dilakukan dengan cara pengolahan tanah untuk membunuh larva uret, penanaman menghindari musim serangan uret (Juni-Juli) atau dengan agensia hayati (Metarhyzium atau Beauveria bassiana) serta pengaturan waktu tanam dan sanitasi kebun. - Penggerek Batang
Penggerek batang yang menyerang tanaman tebu antara lain penggerek batang bergaris (Proceras sacchariphagus Boyer), penggerek batang berkilat (Chilotraea auricilia Dudg), penggerek batang abu-abu (Eucosma schista-ceana Sn), penggerek batang kuning (Chilotraea infuscatella Sn), dan penggerek batang jambon (Sesamia inferens Walk). Penggerek batang bergaris hampir selalu ditemukan di semua kebun tebu. Serangan pada tanaman tebu muda berumur antara 3-5 bulan. Serangan dapat menyebabkan kematian tanaman karena titik tumbuhnya mati.
Serangan pada tanaman tua menyebabkan kerusakan ruas-ruas batang dan pertumbuhan ruas di atasnya terganggu, sehingga batang menjadi pendek, berat batang turun dan rendemen gula menjadi turun. Gejala serangan sering terjadi pada titik tumbuh dan pucuk tanaman yang masih muda, sehingga daun muda layu dan mati. Lorong gerek yang disebabkan penggerek ini sangat tidak teratur. Di dalam satu ruas biasanya dijumpai satu atau lebih larva.
Pengendalian dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida, antara lain Pestona/ Natural BVR. Pengendalian secara biologis dengan musuh alami berupa cendawan Beauveria bassiana, parasitoid telur Trichogramma sp. dan lalat jatiroto (Diatraeophaga striatalis). Secara mekanis dengan rogesan. Kultur teknis dengan menggunakan varietas tahan yaitu PS 46, 56, 57 dan M442-51. Secara terpadu, pengendalian dilakukan dengan memadukan 2 atau lebih cara-cara pengendalian tersebut. - Hama Tikus
Tikus merupakan salah satu hama utama di perkebunan tebu terutama perkebunan rakyat. Pertanaman tebu yang berdekatan dengan persawahan, serangan biasanya terjadi setelah panen padi berakhir. Jenis hama tikus yang dikenal merusak tanaman tebu adalah tikus wirok (B. indica), tikus yang sering ditemui di pesawahan (R. argentiventer, R. exulans dan R. nitidus).
Pengendalian hama yang dapat dilakukan :- Sanitasi tebu
Sanitasi Klentek yaitu kegiatan pembuangan daun tua dari batang tebu yang bertujuan untuk membersihkan lingkungan tumbuh, mencegah kebakaran, menciptakan sirkulasi udara yang baik, mempercepat pembentukan sukrosa dari monosakarida dan memudahkan kegiatan penebangan. - Gropyokan
Gropyokan yaitu melakukan pembongkaran lubang-lubang aktif yang merupakan tempat bersarangnya tikus. - Emposan/gaskus/gas tikus
Kegiatan pengemposan dilakukan dengan cara mencari lubang tikus kemudian masukan belerang lalu nyalakan gas untuk membakar belerang. Pengendalian ini lebih efektif dibandingkan gropyokan. - Rodentisida
Pengendalian secara kimia dengan menggunakan racun tikus atau rodentisida yang diberikan dalam bentuk umpan atau makanan tikus dengan harapan setelah memakan umpan tersebut tikus dapat dikendalikan.(JA 1/2026)
- Sanitasi tebu
Sumber
- Kiswanto, Wijayanto, Bambang. Petunjuk Teknis Budidaya Tebu. 2014. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung
https://repository.pertanian.go.id/items/deee911c-fdfd-4305-a24c-808034c079c9 - Alimin. Pengendalian Tiga Hama Penting Pada Tebu. 2022. Direktorat Jenderal Pertanian, Kementerian Pertanian.
https://ditjenbun.pertanian.go.id/pengendalian-tiga-hama-penting-pada-tebu/ - Muliasari, Ade Astri. Trilaksono, Ranu. Insidensi Hama Dan Penyakit Utama Tebu (Saccharum Officinarum L) Di Pt Pg Rajawali Ii Jatitujuh Majalengka . Jurnal Sains Terapan Vol. 10 (1) : 40 – 52 (2020) DOI : 10.29244/jst.10.1.40 P-ISSN : 2088-8732|E-ISSN : 2722-5232
- Agrokompleks Mandiri. Budidaya Tebu Metode Pupuk Berimbang – Hasil Maksimal. 2016. https://agrokomplekskita.com/budidaya-tebu/
- Suprianto, Bambang (2017). Pengendalian Hama & Penyakit Dan Efeknya pada Hasil Ekonomis Perkebunan Tebu. Online at https://mpra.ub.uni-muenchen.de/82665/ MPRA Paper No. 82665, posted 13 Nov 2017 05:57 UTC





