Tanaman kepel (Stelechocarpus burahol) bukan sekadar flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta, melainkan simbol filosofis yang kaya manfaat. Namun, rendahnya nilai ekonomi dan tingkat kesulitan budidaya yang tinggi membuat keberadaannya kian terpinggirkan. Padahal, kandungan senyawa bioaktif di dalamnya menyimpan potensi kesehatan yang luar biasa, menjadikan upaya konservasi sebagai agenda yang mendesak.
Karakteristik Botani yang Unik
Secara morfologi, anggota famili Annonaceae ini dapat tumbuh menjulang hingga 21 meter dengan diameter batang mencapai 40 cm. Salah satu ciri uniknya adalah sifat cauliflory, di mana bunga dan buahnya tidak tumbuh di ujung dahan, melainkan muncul bergerombol langsung dari batang utamanya yang lurus.
Pohon kepel memiliki percabangan yang rapi dan batang lurus yang kuat. Saat musimnya tiba, batang pohon ini akan dipenuhi oleh bunga-bunga kecil yang kemudian bertransformasi menjadi buah berbentuk bulat. Buah kepel yang masih muda berwarna hijau, lalu perlahan berubah menjadi cokelat tua saat mencapai kematangan. Dengan diameter sekitar 5–7 cm, buah ini menawarkan aroma wangi yang khas, meskipun proporsi daging buahnya tergolong sedikit jika dibandingkan dengan ukuran bijinya yang besar.
Deodoran Alami Kaum Bangsawan
Jauh sebelum penelitian modern mengungkap kandungan bioaktifnya, para putri bangsawan di Kesultanan Yogyakarta telah memanfaatkan kepel sebagai deodoran dan kontrasepsi temporer. Pohon Kepel di beberapa daerah di Indonesia dikenal juga sebagai buah dan pohon kecindul, cindul, simpol, burahol, dan turalak.
Buah ini dipercaya mampu mengubah aroma ekskresi tubuh seperti keringat, napas, dan urine menjadi harum layaknya perpaduan bunga mawar dan sawo. Selain sebagai pengharum tubuh alami, kepel juga dikenal dalam pengobatan tradisional sebagai peluruh kencing (diuretik), pencegah radang ginjal, hingga alat KB alami bagi wanita.
Upaya Penyelamatan di Masa Depan
Menyelamatkan kepel berarti menyelamatkan warisan genetik dan budaya Yogyakarta. Langkah-langkah konservasi genetik harus dilakukan secara sistematis, mulai dari studi keragaman genetik untuk memetakan populasi yang tersisa, hingga eksplorasi ke berbagai daerah guna mengumpulkan plasma nutfah.
Konservasi secara ex situ (di luar habitat asli) melalui pembangunan kebun koleksi atau taman keanekaragaman hayati menjadi solusi jangka pendek yang vital. Namun, yang tidak kalah penting adalah proses karakterisasi dan evaluasi. Dengan teknologi pemuliaan tanaman modern, sangat mungkin di masa depan ditemukan varietas kepel dengan daging buah yang lebih tebal atau teknik perbanyakan yang lebih efisien.
Kepel adalah bukti nyata bagaimana sebuah tanaman bisa menjadi jembatan antara botani, sejarah, dan kesehatan. Melalui upaya konservasi yang terintegrasi, kita tidak hanya menjaga pohon kepel dari kepunahan, tetapi juga memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menghirup "wangi bangsawan" yang telah menjadi bagian dari identitas nusantara selama berabad-abad.
Status Konservasi: Di Ambang Kerawanan
Saat ini, kepel menyandang status Conservation Dependent (CD) atau bergantung pada konservasi. Artinya, tanaman ini sudah jarang ditemui (langka) dan berisiko meningkat statusnya menjadi rawan jika tidak ada tindakan penyelamatan yang konkret.
Kelangkaan kepel di DIY dipicu oleh beberapa faktor:
- Mitos Budaya: Adanya opini lama bahwa pohon ini eksklusif hanya boleh ditanam di lingkungan keraton.
- Kandungan Buah: Masyarakat kurang berminat mengembangkannya karena proporsi daging buah yang sangat sedikit dibandingkan bijinya yang besar.
- Kendala Teknis: Pohon ini dikenal sulit diperbanyak, baik melalui teknik stek maupun cangkok.
Untuk mengatasinya, langkah strategis seperti studi keragaman genetik, eksplorasi, serta konservasi ex situ melalui karakterisasi dan evaluasi mutlak diperlukan guna menjamin keberlanjutan genetiknya. (QAR, 2026).
Sumber
- Rahardjo, M., Djauharia, E., & Darwati, I. (2014). Pengaruh zat pengatur tumbuh terhadap keberhasilan sambung pucuk kepel (stelechocarpus burahol). Buletin Penelitian Tanaman Rempah Dan Obat, 25(1), 21. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/3724
- Utami Hatmi, R., Widyayanti, S., & Sudarmaji. (2015). Potensi kepel (stelechocarpus burahol [blume] hook.f & th.) sebagai sumber pangan fungsional . Prosiding Seminar Nasional Sumber Daya Genetik Pertanian, (2010), 267–268. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/11988
- Wahyono, T. E. (2011, June 1). Buah kepel (stelechocarpus burahol): warta balittro no. 55 tahun 2011. Balai Penelitian Tanaman Obat Dan Aromatik. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/29052





