Di tengah pesatnya alih fungsi lahan, optimalisasi lahan kering yang tepat dapat menjadi sumber pangan sekaligus investasi jangka panjang. Melalui sistem agroforestri, padi gogo dapat dibudidayakan bersama jati untuk mengombinasikan hasil pertanian yang relatif lebih cepat diperoleh dengan potensi hasil kayu dalam jangka panjang. Pola ini membuka peluang diversifikasi produksi dan pendapatan petani tanpa harus memperluas lahan pertanian.
Agroforestri adalah sistem pengelolaan lahan yang menggabungkan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian, dan terkadang juga dengan peternakan, dalam satu lahan yang sama atau dalam suatu pola pengelolaan tertentu. Sistem ini bertujuan untuk memperoleh manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan dengan tetap menjaga kelestarian sumber daya alam.
Sistem agroforestri memungkinkan pemanfaatan ruang tumbuh dan hasil komoditas yang lebih beragam dengan waktu panen berbeda, diversifikasi hasil ini berpotensi meningkatkan pendapatan petani. Agroforestri membantu menjaga fungsi lingkungan melalui pemanfaatan lahan yang lebih terencana, sistem ini dapat dilakukan pada kawasan perkebunan atau kehutanan yang memungkinkan penanaman tanaman semusim. Tantangan penerapan agroforestri terdapat pada pengelolaan interaksi tanaman dalam memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara.
Padi gogo dan jati (Tectonia grandis) menjadi kombinasi menarik yang dikembangkan dalam penerapan agroforestri. Kedua tanaman ini memiliki karakter dan masa produksi berbeda. Padi gogo merupakan padi yang dibudidayakan di lahan kering dengan mengandalkan air hujan, hasil produksi padi dapat dipanen dalam satu musim tanam. Adapun jati merupakan tanaman tahunan penghasil kayu, dan memerlukan waktu lebih panjang untuk mendapatkan hasil kayu.
Diversifikasi hasil dalam kombinasi tanaman ini memungkinkan petani memperoleh hasil pangan (padi) jangka pendek sekaligus memelihara jati sebagai investasi jangka panjang. Tantangan dalam pertanaman ini adalah padi gogo yang membutuhkan cahaya matahari cukup untuk berfotosintesis, sedangkan jati tumbuh membesar dan memiliki tajuk yang dapat mengurangi intensitas cahaya yang akan diterima padi. Akar keduanya juga berpotensi bersaing untuk mendapatkan air dan unsur hara. Pemilihan varietas dan pengaturan pertumbuhan pohon menjadi penentu keberhasilan dalam kombinasi pertanaman ini.
Teknik Budi Daya Padi Gogo dan Jati
Penerapan agroforestri padi gogo dan jati perlu diawali dengan penilaian kondisi lahan, ketersediaan air, kesuburan tanah, serta karakteristik tanaman yang digunakan. Dalam penelitian, varietas padi gogo Jatiluhur diketahui relatif lebih toleran terhadap naungan atau kondisi lingkungan dengan intensitas cahaya matahari rendah. Pada simulasi kombinasi yang dilakukan, jarak tanam jati yang efektif dalam pertanaman ini adalah 5 meter x 2 meter. Jarak tanam jati begitu berpengaruh terhadap keseimbangan produksi kedua tanaman. Jarak jati yang terlalu rapat dapat meningkatkan persaingan dalam memperoleh cahaya matahari, air, dan unsur hara hingga menurunkan hasil produksi.
Pengelolaan yang sesuai dapat membantu mempertahankan produksi tanaman pangan dan mendukung pertanaman pohon. Pengelolaan tajuk pohon adalah hal yang perlu diperhatikan selama musim tanam padi, hal ini penting dilakukan untuk menjaga cahaya matahari yang masuk. Pemangkasan dapat dilakukan secara terukur pada kanopi jati sebanyak 30% untuk mengurangi naungan. Pengelolaan dan pemangkasan akar juga perlu diperhitungkan agar tidak menghambat pemulihan dan perkembangan jati.
Pemupukan menjadi faktor pendukung pertanaman ini. Dalam simulasi, pemberian pupuk yang dapat dilakukan per ha adalah 80 kg urea, 100 kg ZA, 70 kg SP-36, dan 6 ton pupuk kandang. Selain rekomendasi ini, petani juga perlu menyesuaikan pemupukan dengan kondisi tanah, kebutuhan tanaman, dan rekomendasi teknis yang berlaku. Pemantauan pertumbuhan padi, perkembangan tajuk jati, serta kelembapan tanah juga diperlukan agar pengelolaan dapat dilakukan sesuai kondisi lapangan.
Prospek Agroforestri untuk Masa Depan
Pengembangan agroforestri mempunyai prospek yang baik dalam peningkatan produksi pangan, peningkatan pendapatan petani, dan menjaga keamanan dan kelestarian hutan bersama masyarakat. Upaya strategis ini dapat menjadikan hutan sebagai sumber pangan, energi, air, dan pemberdayaan masyarakat. Selain hasil produksi, keuntungan dari agroforestri atau tumpangsari di lahan hutan ini di antaranya 1) menciptakan kesejahteraan masyarakat melalui kesempatan kerja dan peningkatan kualitas gizi; 2) meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pengembangan pertanian pada tanah pertanian kering dan peningkatan produktivitasnya; dan 3) meningkatkan kesadaran masyarakat akan fungsi hutan dan gangguan hutan yang perlu ditindak.
Kunci utama keberhasilan agroforestri terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan kebutuhan dua tanaman yang ditanam. Agroforestri padi gogo dan jati memiliki peluang strategis pertanian berkelanjutan yang menggabungkan produksi pangan, investasi kayu, serta pemanfaatan lahan secara optimal. (AM’2026)
Sumber:
- Mayrowani, H. & Ashari. (2011). Pengembangan agroforestry untuk mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan petani sekitar hutan. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 29(2): 83—98.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/25542 - Yuniastuti, S. (2007). Pengelolaan tanaman dalam model simulasi untuk pengembangan padi gogo (Oryza sativa) di sistem agroforestri. Buletin Teknologi dan Informasi Pertanian, 10:125—131.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/24849





