
Bogor-Menyusuri jejak sejarah pengetahuan pertanian, puluhan peserta Ekspedisi Balai Kirti dari Museum Kepresidenan RI Balai Kirti berkunjung ke Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB PUSTAKA), Minggu (6/9/2026).
Kunjungan ini bukan sekadar library tour, tetapi menjadi perjalanan mengenal warisan pengetahuan yang tersimpan sejak Bibliotheca Bogoriensis berdiri pada 1842, sekaligus menyaksikan langsung upaya BB PUSTAKA merawat koleksi bersejarah agar tetap dapat dipelajari oleh generasi masa kini dan mendatang.
Kegiatan yang dimulai sejak pagi ini menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengenal lebih dekat sejarah perpustakaan, berbagai koleksi yang dimiliki, serta proses pelestarian koleksi-koleksi bersejarah.
Kegiatan diawali dengan sambutan dari Ketua Tim Kerja Layanan BB PUSTAKA Sutarsyah, kemudian dilanjutkan dengan sesi perkenalan. Setelah itu, peserta diajak memasuki ruang layanan perpustakaan untuk mendapatkan pengenalan mengenai Bibliotheca Bogoriensis, cikal bakal BB PUSTAKA yang telah berdiri sejak tahun 1842. Sejarah panjang tersebut menjadikan BB PUSTAKA sebagai salah satu perpustakaan yang memiliki kekayaan koleksi dan nilai historis penting, khususnya dalam bidang pertanian.
Dalam sesi pengenalan, peserta memperoleh informasi mengenai berbagai layanan dan tata tertib perpustakaan, sekaligus diperkenalkan dengan koleksi yang dimiliki BB PUSTAKA. Perhatian peserta terutama tertuju pada koleksi antikuariat, yaitu koleksi-koleksi tua yang memiliki nilai sejarah dan informasi yang sangat berharga. Beberapa koleksi antikuariat yang dipamerkan secara khusus turut dijelaskan oleh pustakawan yang mendampingi kegiatan.
Salah satu koleksi yang diperkenalkan adalah Deli in Woord en Beeld tahun 1905. Koleksi ini menggambarkan wilayah Deli pada masa kolonial melalui uraian dan dokumentasi visual, sehingga memberikan gambaran mengenai kondisi wilayah dan kehidupan masyarakat Deli pada masa tersebut.
Peserta juga melihat Herbarius oft Cruydt-Boeck tahun 1644, sebuah karya lama yang berisi pengetahuan mengenai berbagai tumbuhan, termasuk karakteristik serta pemanfaatannya, yang mencerminkan perkembangan pengetahuan tentang tanaman pada masa itu.
Koleksi lainnya adalah The Mountain Flora of Java tahun 1972 yang memuat kajian mengenai flora pegunungan di Pulau Jawa, termasuk berbagai jenis tumbuhan yang ditemukan di kawasan pegunungan beserta informasi botanisnya.
Setelah melihat koleksi antikuariat, peserta kemudian diajak mengunjungi ruang preservasi untuk melihat secara langsung bagaimana koleksi perpustakaan dirawat dan dilestarikan. Di ruangan tersebut, pustakawan menjelaskan berbagai tahapan perawatan koleksi, mulai dari proses pencucian atau pembersihan menggunakan cairan khusus, pelapisan menggunakan tisu Jepang, hingga proses penjilidan.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran kepada peserta bahwa menjaga koleksi berusia puluhan bahkan ratusan tahun membutuhkan proses perawatan yang teliti dan berkelanjutan. Rangkaian library tour kemudian ditutup dengan foto bersama di depan gedung BB PUSTAKA.
Melalui kunjungan ini, peserta Ekspedisi Balai Kirti tidak hanya memperoleh pengalaman mengenal perpustakaan, tetapi juga diajak melihat secara langsung bagaimana sebuah perpustakaan menyimpan, merawat, dan memperkenalkan warisan pengetahuan kepada masyarakat.
BB PUSTAKA pun terus membuka ruang kolaborasi dan edukasi agar kekayaan koleksi serta sejarah pertanian dapat semakin dikenal oleh generasi masa kini dan mendatang. Kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk memperluas akses pengetahuan sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap warisan literasi pertanian (Kontributor TR/Edit SO)
